daur ulang

Air Didaur Ulang, Apakah Suci?

Kecanggihan teknologi memudahkan banyak hal, termasuk mengaji. Tempat ngajinya di Surabaya tetapi saya di luar pulau terpisah lautan. Hampir bersamaan, sebuah Lembaga Kajian Islam di ITS ngaji kitab Bulughul Maram. Di kawasan Rungkut ada Masjid As-Shobirin juga memulai ngaji Bulughul Maram.

Anehnya ada pertanyaan yang sama. Soal pemanfaatan air yang sudah digunakan bersuci kemudian dikumpulkan lagi apakah suci dan bisa dibuat untuk bersuci? Bedanya, yang jemaah Masjid As-Shobirin menanyakan air yang terdapat di hotel kemudian didaur ulang sehingga menjadi air steril lagi. Sedangkan dari mahasiswa ITS -karena basisnya mempelajari teknologi- jika air najis dimasukkan ke dalam sebuah alat teknologi kemudian menjadi air bersih.

Jawabannya satu dan sama. Yakni air tersebut suci dan mensucikan jika telah lebih mencapai 2 Kullah (270 liter, Syekh Wahbah Zuhaili) dan sudah tidak ada sifat-sifat najis berupa bau, warna dan rasa. Sebagaimana disampaikan oleh ulama Madzhab Syafi’iyah:

Artinya: “Jika air yang berubah tersebut kembali netral, bisa jadi karena diam dalam tempo lama, tidak ada benda atau zat yang dimasukkan, atau dengan cara ditambah air yang banyak walaupun dengan air najis, atau juga ada bagian air yang diambil sedangkan sisanya masih banyak seperti air yang ditaruh diwadah tertutup, setelah itu tutupnya dibuka lalu kemasukan angin, atau sebab benda yang jatuh kemudian berdampingan dengan air, atau bisa jadi karena tercampur dengan benda yang bisa menyegarkan seperti minyak za’faran yang tidak mempunyai rasa dan bau, maka hukumnya suci sebab sebab najisnya sudah hilang.” (Imam Ibnu Hajar Al-Haitami. Tuhfatul Muhtâj, [al-Maktabah Al-Tijariyah Al-Kubra, Mesir, 1983], juz 1, halaman 85)

Sumber ; FB Kyai Maruf Khozin

__Terbit pada
12 Oktober 2020
__Kategori
Kajian Fikih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *