Gus Baha Dawuh

ALMA’RUF Vs ALMUNKAR

Saat ngaji kitab Sirojut Tolibin karya Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Jampes syarah Minjahul Abidin karya Imam Ghozali, Pengasuh PP Sunan Ampel Jombang, KH Taufiqurrahman Muchid, menjelaskan, kenapa malaikat yang menyiksa dalam kubur namanya Munkar Nakir.

“Namanya Munkar Nakir karena sangat ingkarnya manusia,” tuturnya.

Ingkar maksudnya, ora percoyo ada makhluk sangat menakutkan dan sangat jelek seperti itu.

Malaikat Munkar Nakir itu sangat serem dan menakutkan. Matanya mendolo keluar. Ngomong nya seperti bledeg. Saat ngomong keluar api dari mulut nya. Tangannya pegang godo dari besi menganga.

“Kok enek makhluk koyok ngene,” batin ahli kubur yang baru ketemu Munkar Nakir.

Karena saking ingkarnya manusia yang ketemu dengannya itulah, nama nya disebut Munkar Nakir.

Gus Baha juga pernah menjelaskan serupa. Kebaikan itu disebut Alma’ruf karena kinoweruhan. Disepakati oleh umum. Bisa diterima umum. Yang melakukan juga tidak malu.

Kalau kita berbuat ma’ruf, pasti tidak malu orang lain tahu apa yang kita lakukan.

Kita keluar rumah dengan berbusana muslim. Pasti tidak malu, karena itu ma’ruf.

Takmir masjid tiap Jumat mengumumkan perolehan kas dan penggunaan nya. Kalau memang penggunaan nya ma’ruf, pasti tidak malu mengumumkan.

Saya pernah lewat depannya balai desa Watudakon Kesamben. Di depan balai desa ada banner besar berisi rincian pemasukan dan penggunaan dana desa. Karena ma’ruf, pasti tidak malu memajangnya.

Sebaliknya, barang jelek itu disebut almunkar. Karena siapapun pasti ingkar.

Pelacur, pasti melarang anaknya jadi pelacur. Karena dia sendiri aslinya ingkar dengan pekerjaannya.

Dan orang yang berbuat munkar, pasti malu diketahui orang lain.

Pada kolom pekerjaan di KTP, pelacur pasti malu mencantumkan pekerjaan nya pelacur.

Orang normal keluar rumah telanjang, pasti malu. Karena keluar rumah telanjang itu termasuk munkar.

Kalau kas masjid digunakan untuk hal yang munkar, takmir pasti malu mengumumkan tiap Jumat.

Organisasi yang gak beres dalam hal pemasukan dan pengeluaran nya, pasti malu melaporkan..

Karena aslinya, pelakunya sendiri sadar bahwa yang dilakukan itu munkar.

Jadinya malu melaporkan..

Dan semua hal yang munkar itu, pasti membuat hati tidak tenang…

Makanya Rasulullah Muhammad sollallahu alaihi wa sallam berpesan; Tanya hatimu..

Karena hati kita aslinya bisa mendeteksi. Sesuatu itu ma’ruf atau munkar..

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ

Mugi Allah subhanahu wa ta’ala paring kita saget mengikuti yang ma’ruf dan menjauhi yang munkar

__Terbit pada
25 November 2021
__Kategori
hikmah, Ilmu Hadist

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *