Anak HP

Amalan Agar Anak Terjaga selama 24 Jam

Bagi keluarga yang berdiam di rumah selama wabah penyakit akibat virus Corona (COVID-19), waktu yang dihabiskan anak di dunia maya sangat mungkin meningkat drastis. Sebab, hampir semua kegiatan dilaksanakan melalui platform daring, mulai dari belajar, mengobrol dengan teman dan kakek-nenek, hingga kegiatan ekstrakurikuler.

Sebagian orang tua menilai manut dan berbaktinya anak dilihat bila jarang pergi. Bagi mereka, buah hati dianggap berbakti dan jauh dari godaan bila tidak pernah kelayapan. Anteng di rumah atau mengurung di kamar.

Padahal, saat berada di kamar sekalipun, anak bisa ‘sampai’ ke mana-mana. Dengan memegang telepon pintar, dapat berkomunikasi dengan dunia luar secara bebas. Bahkan tidak sedikit yang mengakses konten yang tidak layak.

Oleh karena itu, memproteksi anak di zaman akhir memang dilematis. Kalau terlalu dikekang, akan berontak dan mencari pelampiasan di dunia luar. Demikian juga bila diberikan kebebasan, tidak jarang yang kebablasan.

Upayakan komunikasi jujur dan terbuka dengan anak tentang cara dan teman interaksi mereka di dunia maya. Pastikan anak paham bahwa interaksi dunia maya pun harus dilakukan dengan baik dan sopan. Perlakuan yang bersifat mendiskriminasi atau tidak pantas tetap tidak boleh ditoleransi. Dorong anak untuk selalu bercerita kepada orang dewasa yang bisa mereka percayai apabila mereka mendapatkan pengalaman negatif. Selain itu, amati perilaku anak; waspadalah jika anak tampak murung atau cenderung menyembunyikan kegiatannya di internet, atau jika mengalami perundungan di dunia maya.

Buat peraturan bersama anak tentang cara, kapan, dan di mana mereka boleh menggunakan perangkat elektronik

dikutip dari Jatim NU Online, KH Husein Ilyas Mojokerto memberikan ijazah agar orang tua tidak terlalu was-was dengan perkembangan anak. Bahkan menurut kiai yang demikian dihormati di Mojokerto dan Jawa Timur tersebut, amalan berikut dapat menjaga anak selama 24 jam non-stop.

“Setelah selesai shalat, bacakan surat al-Fatihah kepada seluruh anggota keluarga”

Kyai Husein menjelaskan bahwa satu demi satu, anggota keluarga dibacakan surat al-Fatihah secara khusus. Bila anggota keluarganya ada lima, maka lima kali pula bacaan al-Fatihah dibacakan.

“Bahkan bila ada anak yang terlihat bandel dan tidak sama dengan yang lain, maka bacaan al-Fatihahnya tidak cukup hanya sekali,” ungkapnya. Yakni untuk yang bersangkutan bisa dibacakan tiga, lima dan bilangan ganjil seterusnya, lanjutnya.

__Terbit pada
11 September 2021
__Kategori
Amalan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *