PKD Balongrejo

Antara Suwuk Telor Matang dan PKD Balongrejo: Sebuah Mata Rantai Perjuangan

Alkisah, perang 10 November begitu heroik dimana orok negara Indonesia yang baru lahir menghadapi kekuatan aliansi sekutu yang notobene pemenang Perang Dunia II sehingga secara matematika militer sangat tidak level.

Sejarah menunjukkan, kemenangan yang kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan Nasional itu tidak lepas dari perjuangan rakyat semesta yang dikomando oleh para Ulama seantero Jawa. Ratusan ribu bahkan jutaan rakyat tumpah ke Surabaya untuk jihad fi sabilillah mempertahankan tanah air.

Desa Balong Rejo kecamatan Sumobito kabupaten Jombang, sebuah desa kecil lima belas kilometer arah timur jombang menyimpan banyak sekuel sejarah diatas. Tersebutlah Mbah Kiai Arif (w. t.1952) sosok kiai alim allamah sekaligus pendekar pilih tanding yang mengasuh pesantren al Hikmah peninggalan ayahnya, mbah Kiai Syahid.

Di pesantren inilah, ribuan lasykar yang akan berangkat ke Surabaya digembleng oleh Mbah Yai Arif. Dengan disaksikan oleh hadlaratussyaikh Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Hasbullah dan para kiai lainnya, Mbah Yai Arif menyuwuk lasykar melalui media telur ayam yang digodok matang. “Ibu saya bercerita, untuk memasak ribuan telur dibutuhkan puluhan drum yang memenuhi halaman masjid.” kata KH Taufiq Jalil, cucu almarhum Mbah Yai Arif dari jalur ibu. Dari jalur ayah, beliau adalah putra dari almarhum KH Abdul Jalil bin Mbah Abdurrohman dari dusun mBulak desa Mojokrapak Tembelang Jombang.

Gus Taufiq, demikian saya akrab memangil, saat ini juga menjabat Kepala Kanwil Kemenag Kabupaten Blitar dan Ketua Umum IKABU (Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum) adalah sosok yang sangat banyak merekam sekuel riwayat sejarah diatas disebabkan masa kecilnya lebih sering di balongrejo.

Ada kisah menarik, saat pasukan santri dimobilisasi ke Balongrejo, pemuda abdul jalil, diperintah ayahnya, mbah abdurrohman, untuk bergabung. Ternyata, di sana mbah Yai Arif sudah sekongkol dgn mbah Yai Abdurrohman untuk besanan. “Jadi, di majelis gemblengan itulah, sesaat sebelum berangkat ke medan tempur, ayah saya dinikahkan dgn ibu saya yang putrinya Kiai Arif” kenang Gus Taufiq.

Cerita para leluhur memang sangat mengasyikkan. Betapa dua sosok pendekar njombang pada jaman itu sangat akrab bahkan sampai besanan. Kiai Abdurahman dan Kiai Arif memang berteman dekat sejak mondok dibawah asuhan Syaikhona Kholil Bangkalan bersama Kiai Wahab dan Kiai Hasyim Asy’ari dll.

Ada banyak kisah malam ini. Seperti kisah alm
KH Wahid Hasyim, Ayah Gus Dur, dan pejuang lainnya yg bersembunyi di mBulak, rumah alm. mbah Yai Abdurrohman saat ditarget oleh polisi belanda. Dll. Masih banyak kisah penuh hikmah yang harus kita wariskan dari generasi ke generasi dan ini tugas Gus Fathoni Mahsun serta Cak Amir Syarifudin untuk meriset dan menuliskannya agar terpublikasi lebih luas.

Oleh karena itulah tabarrukan Pelatihan Kader Dasar Ansor-Banser malam ini dipusatkan di Balong Rejo Sumbito, tanah yg penuh berkah karena di sinilah para Ulama Jombang dulu mengatur serangan..

Keterangan: H. Latif Malik Bersama Gus Taufiq Jalil, Ketua PAC GP Ansor dan Ketua MWC NU Sumobito di kantor madrasah dan pondok Balongrejo
__Terbit pada
30 Januari 2021
__Kategori
hikmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *