mudik

Apakah boleh bagi seorang musafir untuk tidak berpuasa?

Kyaiku.com – Sebagaimana ibadah wajib lainnya dalam puasa Allah juga memberi keringanan bagi kelompok tertentu untuk tidak melakukannya dengan konsekuensi menggantinya di hari yang lain, membayar fidyah, atau gabungan dari keduanya. Salah satu kelompok orang yang diberi keringan boleh tidak berpuasa adalah orang yang sedang melakukan perjalanan atau lebih kaprah disebut musafir.

Di dalam Al-Qur’an Allah dengan jelas menyatakan hal tersebut dalam firman-Nya:   فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“…Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain…” (QS. al-Baqarah: 185)

berikut aturan-aturanya :

Boleh bagi seorang musafir dengan jarak yang membolehkan qoshor sholat untuk tidak berpuasa.
👆Meskipun puasa baginya tidak menimbulkan masyaqqoh (berat), artinya meskipun dia kuat untuk berpuasa tetap diperbolehkan untuk tidak berpuasa, hanya saja berpuasa untuk orang seperti ini lebih utama.
⛔ Perlu diingat bahwa musafir yang boleh tidak berpuasa adalah musafir yang telah meninggalkan balad (daerah)nya sebelum terbitnya fajar shodiq (Shubuh).
👆Seseorang yang baru berangkat bepergian setelah Shubuh harus berpuasa pada hari tersebut. Dan jika keesokan harinya dia masih dalam perjalanan maka dia boleh untuk tidak berpuasa.
🌼 Orang yang tidak berpuasa karena musafir hanya wajib untuk mengqodlo puasa yang ditinggalkannya

Catatan:
Jarak qoshor adalah 2 Marhalah/16 Farsakh atau sekitar 80,64 KM

والله اعلم بالصواب
#LDNU KAB KEDIRI

__Terbit pada
12 April 2021
__Kategori
Fiqih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *