Bagaimana Definisi “Cantik” yang Sesungguhnya?

Oleh: Qurratul Adawiyah*

Nafsu menilai berdasarkan cantik paras dan seksi tubuhnya. Akal menilai berdasarkan brilian otak dan lincah tingkahnya. Hati menilai berdasarkan indah akhlak dan ilmu agamanya. Turuti ketiganya jika mampu. Jika terpaksa harus memilih, maka, utamakan hatimu. Karena ia yang akan menjanjikan kebahagiaan yang hakiki dan abadi.” (Rifa’i Rifan)

Pemahaman tentang cantik terkadang merupakan sebuah steatment yang dinilai hanya dari segi fisik. Meski penilaian setiap orang tentang cantik dapat berbeda satu sama lain. Masyarakat umum memandang cantik kebanyakan dari segi fisik saja, sesuatu yang tampak diluar dan dapat dilihat secara kasat mata.

Hal ini berbanding lurus dengan maraknya produk kecantikan yang laris manis di pasaran, bisnis salon, tata rias juga klinik kecantikan yang seakan menjadi gaya hidup seseorang. Perspektif cantik yang hanya dilihat dari fisik, kulit putih, rambut panjang hitam, tinggi badan serta tubuh langsing masih sangat mengakar di masyarakat.

Selain pemaknaan cantik dari fisik kebanyakan orang masih melihat kecantikan dari apa yang seseorang kenakan. Mulai dari pakaian, sepatu, tas atau secara garis besar fashion yang dikenakan seseorang mempegaruhi pandangan orang lain terhadap diri seserorang. Seseorang yang memiliki baju menarik, terbaru dan mahal biasanya mendapat nilai tersendiri di mata orang lain.

Cantik yang sesungguhnya adalah cantik dari dalam diri seseorang (hati), tercermin dalam tingkah laku, perbuatannya yang tak pernah berkata buruk, menyakiti orang lain, sopan santun yang dijaga.  Sehingga cantik yang tercermin dari dalam akan berimplementasi pada tindakan seseorang setiap harinya.

Kecantikan dari dalam merupakan penunjang seorang perempuan dipandang cantik oleh orang lain, memiliki sopan santun, etika, dan tidak berkata buruk. Namun tentu tidak cukup sampai disitu, perempuan juga harus memiliki kecantikan dari luar, kecantikan dari luar yang membuat ia enak dipandang (good looking).

Kecantikan dari luar ini yang membuat ia mudah diterima banyak orang, memiliki kepercayaan diri misalnya. Sehingga perpaduan antara kecantikan luar dan dalam akan membuat seorang perempuan ini memiliki kecantikan yang sempurna. Jadi kategori cantik bagi perempuan dapat dibagi menjadi dua, yaitu cantik dari luar dan cantik dari dalam.

Kecantikan dari luar adalah kecantikan yang dilihat dari segi fisik. Kecantikan yang dapat dibentuk dengan berbagai perawatan kecantikan dan perawatan diri seseorang. Sedangkan kecantikan dari dalam yaitu kecantikan yang terpancar dari sifat perempuan itu sendiri. Seperti: Beriman, berakhlak, cerdas, kreatif dan produktif.

Maka kita sebagai perempuan jadilah perempuan yang cantik luar dalam karena dengan menjadi perempuan yang cantik luar dalam (berakhlak, cerdas, aktif, kreatif dan produktif) maka secara  langsung  sudah menjadi perempuan komplit, yaitu perempuan yang tidak hanya tahu soal makan, tidur, bersolek dan kawin. Tetapi juga banyak belajar, berpikiran luas, dapat merancang masa depan dan pandai menempatkan diri, serta memiliki kesadaran, ketulusan, bisa menjadi tempat untuk berpulang, dan kuat tuk dijadikan pijakan.

Ketika perempuan sudah berhasil menjadikan dirinya perempuan yang komplit, maka kemungkinan besar dapat mendidik anak-anak mereka dengan baik dan benar sehingga  ikut mengambil andil untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, menjadikan Indonesia lebih maju. Maka dari itu untuk kita, para  perempuan jadilah perempuan emas kemudian didiklah generasi emas untuk Indonesia emas.

Oleh karena itu kita sebagai wanita, jadilah the perfect muslimah sebagaimana yang dikatakan oleh Rifa’i Rif’an dalam bukunya, yaitu indah akhlaknya, teduh parasnya, brilian otaknya, mantap ilmu agamanya, luas pergaulannya, dahsyat prestasinya, hebat kontribusinya, auratnya terjaga, matanya berkilau oleh air mata takwa, bibirnya basah dengan untaian petuah, bicaranya dakwah, pendengarannya tilawah, geraknya jihad fisabilillah, hatinya penuh pikir, hatinya penuh dzikir  dan dipercantik oleh terjaganya lahir.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

__Terbit pada
23 Februari 2021
__Kategori
hikmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *