haji

Bagaimana hukumnya usaha menangguhkan haidh dengan maksud agar dapat menyelesaikan ibadah haji, dan bagaimana pula hukum hajinya?

Jawaban :

jamaah yang budiman Usaha menangguhkan haidh tersebut boleh, asal tidak membahayakan, dan hukum hajinya sah.

Keterangan dari kitab:

1. Ghayah Talkhish al-Murad

وَفِي فَتَاوَى الْقِمَاطِ مَا حَاصِلُهُ جَوَازُ اسْتِعْمَالِ الدَّوَاءِ لِمَنْعِ الْحَيْضِ

Dalam Fatawa al-Qimath disimpulkan, boleh mempergunakan obat-obatan untuk mencegah haid (Abdurrahman bin Muhammad Ba’ alawi, Ghayah al-Talkhish fi Fatawa Ibn Ziyad pada Bughyah al-Mustarsyidin, [Beirut: Dar al-Fikr, t. th.], h. 247).

2. Qurrah al-‘Ain fi Fatawa al-Haramain

مَسْأَلَةٌ: إِذَا اسْتَعْمَلَتِ الْمَرْأَةُ دَوَاءً لِمَنْعِ دَمِ الْحَيْضِ أَوْ تَقْلِيْلِهِ فَإِنَّهُ يُكْرَهُ مَا لَمْ يَلْزَمْ عَلَيْهِ قَطْعُ النَّسْلِ أَوْ قِلَّتُهِ

Masalah: Jika seorang perempuan menggunakan obat untuk mencegah haid atau memenguranginya, maka hukumnya makruh bila tidak menyebabkan keturunan terputusnya atau menguranginya (Muhamad Ali al-Maliki, Qurrah al-‘Ain fi Fatawa al-Haramain, [Beirut: Dar al-Fikr, 2004], h. 30).

3. Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah

أَمَّا إِذَا خَرَجَ دَمُ الْحَيْضِ بِسَبَبِ دَوَاءٍ فِيْ غَيْرِ مَوْعِدِهِ فَإِنَّ الظَّاهِرَ عِنْدَهُمْ لاَ يُسَمَّى حَيْضًا. فَعَلَى الْمَرْأَةِ أَنْ تَصُوْمَ وَتُصَلِّيَ وَلَكِنْ عَلَيْهَا أَنْ تَقْضِيَ الصِّيَامَ احْتِيَاطًا لِاحْتِمَالِ أَنْ يَكُوْنَ حَيْضًا وَلاَ تَنْقَضِيْ بِهِ عِدَّتُهَا وَهَذَا بِخِلاَفِ مَا إِذَا اسْتَعْمَلَتْ دَوَاءً يَنْقَطِعُ بِهِ الْحَيْضُ فِيْ غَيْرِ وَقْتِهِ الْمُعْتَادِ. فَإِنَّهُ يُعْتَبَرُ طُهْرًا وَتَنْقَضِيْ بِهِ الْعِدَّةُ عَلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَمْنَعَ حَيْضَهَا أَوْ تَسْتَعْجِلَ إِنْزَالَهُ إِذَا كَانَ ذَلِكَ يَضُرُّ صِحَّتَهَا لِأَنَّ الْمُحَافَظَةَ عَلَى الصِّحَّةِ وَاجِبَةٌ.

Adapun jika darah haid itu keluar di luar siklusnya disebabkan oleh obat-obatan, maka menurut pendapat kuat ulama Malikiyah adalah darah tersebut tidak dinamakan haid. Maka si wanita wajib puasa dan shalat dan wajib mengqadha puasanya karena kehati-hatian. Sebab ada kemungkinan darah itu adalah haid dan ‘iddahnya tidak habis dengan sebab keluarnya darah tersebut. Hal ini berbeda dengan kasus wanita yang memakai obat yang menghentikan haidnya di luar waktu siklus biasanya, maka ia dianggap suci dan ‘iddahnya habis sebab haidnya terhenti. Semuanya atas dasar seorang wanita tidak boleh mencegah atau memajukan haid bila hal itu membahayakan kesehatannya, sebab menjaga kesehatan itu hukumnya wajib (Abdurrahman al-Juzairi, al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, [Beirut: Dar al-Fikr, 1990], Juz IV, h. 16).

__Terbit pada
5 Mei 2021
__Kategori
Fiqih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *