agama

BELAJAR AGAMA DI MEDSOS, WHY NOT?

Internet dengan ragam jenis media sosial itu tak lebih dari sebuah ruang. Kita bisa menyebutnya sebagai ruang digital atau virtual. Di dalamnya, kita bisa menemukan apa pun, termasuk materi-materi keagamaan. Kita tinggal klik materi yang diinginkan, langsung muncul. Bahkan dari berbagai jenis media sosial, seperti Facebook, Instagram, Youtube dan lain-lain.
Bolehkah belajar agama di berbagai media sosial ini?
Tetap boleh. Kita tak punya alasan untuk mengatakan tak boleh.
Pelaku media sosial itu adalah orang-orang yang hidup secara riil dalam ruang offline. Mereka benar-benar ada. Kita pun bagian dari mereka yang berada dalam dua ruang ini sekaligus: offline dan online. Dengan kata lain, belajar agama di mana pun, sama saja. Sama saja dalam pengertian, materi maupun pematerinya masih yang itu-itu. Bukan makhluk lain yang tak dikenali. Sekali lagi, ini hanya tentang ruang yang kita gunakan.
Contoh sederhananya, kalau kita mau belajar Ihya karya al-Gazali itu, ngaji aja ke Gus Ulil. Mau belajar Tafsir al-Jalalain, ikut pengajian Gus Baha. Mau tahu lebih jelas tentang tafsir asli Indonesia seperti Tafsir al-Ibriz ngaji ke Gus Mus. Atau, mau belajar tafsir yang ditulis pakai bahasa Indonesia, langsung saja ke Prof. Quraish Shihah. Mau ngaji bidang hadis? Ikut saja pengajian KH. Miftachul Akhyar, Gus A. Izzuddin Abdurrochman Tegalrejo, KH. Dimyati Rois Kaliwungu, KH. Abdul Nashir Fattah Tambakberas, dan lain-lain.
Kajian-kajian para pakar di atas, saat ini, bisa dikases di internet. Terutama di Youtube. Jadi, mau ngaji di mana pun, offline atau online, sama aja. Tapi, bukannya gara-gara belajar agama di internet secara umum atau di YouTube secara khusus, sebagian kita, jadi suka ngafir-ngafirkan orang lain? Saat ruang digital atau virtual belum seperti sekarang, mungkin itu benar. Hari ini, dalam ruang digital, titik masalahnya bukan belajar “di mana”, tapi “pada siapa”nya. Belajar agama dari tokoh-tokoh kredibel seperti di atas mana bisa membuat kita jadi merasa benar sendiri atau bahkan suka ngafir-ngafirkan orang?
Beliau-beliau adalah tokoh-tokoh teduh dan meneduhkan. Sanad keilmuannya jelas. Jejak pribadi dan pengetahuannya tak diragukan. Paparannya mudah sekali dicerna. Memerhatikan tiap kalimat yang disampaikan menjadikan kita berwawasan luas. Bisa lebih mengerti perbedaan. Tak mudah menyalahkan orang lain yang berbeda dan sebagainya. Tak ada bedanya ngaji agama secara offline maupun online bila yang tokoh yang kita tuju adalah nama-nama besar tersebut. Atau nama-nama lain yang memang memenuhi standar dan kualifikasi.
Tentu saja, semua ruang, baik offline maupun online punya plus-minusnya sendiri. Kita yang sibuk, hampir tak mungkin belajar langsung pada para pakar di atas, media sosial mereka bisa menjadi solusi. Bila berlama-lama menyimak penjelasan beliau secara langsung tak bisa dilakukan, pengajian keagamaan melalui ragam akun YouTube mereka menjadi alternatif. Ya, paling tidak, hal yang tak bisa digapai karena keterbatasan waktu, tak lantas harus dihilangkan sama sekali.
Dalam ruang offline, waktu yang tersedia tak mungkin bisa sefleksibel saat nonton di YouTube. Tapi, secara sosial dan psikologis, pasti rasanya beda. Kita bisa belajar dari beliau-beliau tak hanya dari apa yang kita dengarkan melalui penjelasan-penjelasan, melainkan bisa dari apa yang kita lihat dan saksikan. Bagaimana beliau begitu ramah pada sesama, wajah yang selalu sumringah saat berjumpa orang lain dan sebagainya, ini hanya bisa didapati dengan belajar langsung. Tak bisa diwakili dengan media sosial. Bagaimana pun, media sosial punya keterbatasan untuk menyajikan lebih dari yang dipaparkan secara oral di akun-akun pengajian beliau.
Jadi, poin utama yang perlu ditegaskan adalah saat ini titik pentingnya ada pada “mengaji pada siapa” bukan “mengaji di mana.” Karena sama-sama menggunakan media sosial, terutama YouTube.
Soal menjadi pribadi yang suka ¬merasa benar sendiri, nyalah-nyalahin yang berbeda, sok tahu segalanya dan lain-lain di mana pun bisa terjadi. Di ruang offline tak sulit kita menemukan orang dengan model seperti ini. Bedanya, di ruang digital atau virtual, kesempatan untuk menjadi ustaz dadakan lebih terbuka. Materi agama yang membeludak, dalam kondisi tertentu, menjadikan kajian agama di media sosial cenderung jadi kambing hitam. Padahal, yang terjadi sebelumnya, selain soal siapa yang menyajikan, juga karena tak didukung dengan kesiapan literasi dari para pengguna media sosial itu sendiri.
Hal lain yang harus menjadi catatan, materi agama di media sosial tak muncul dalam satu bentuk yakni YouTube saja. Ia muncul dalam bentuk meme-meme dan sebagainya. Jelas, meme-meme tak bisa menampung materi agama yang bisa ditampung di Youtube. Memaksakan meme sebagai media utama belajar agama, akan menjadikan penjelasan agama itu sepotong-sepotong. Tak menyeluruh. Meme-meme materi agama, cenderung hanya mewadahi terjemahan sebuah teks, baik al-Qur’an dan hadis, atau pun ungkapan-ungkapan singkat tokoh tertentu. Dengan kata lain, meski belajar agama bisa di mana pun¸tapi soal “pada siapa” dan menggunakan media “yang bagaimana” tetap harus menjadi perhatian.
Sumber : FB Miski Mudin
__Terbit pada
24 Agustus 2021
__Kategori
Fiqih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *