pintu

CELOTEH PAGI(murid ataukah tamu?)

Yang masih suka dipuji, dimulyakan, disambut-sambut, kelihatannya lagi ikut majelis padahal cuma kongkow ngobrol ngalor ngidul, itu kelasnya di hadapan guru mursyid masih : TAMU.

Sementara yg sering dilihat salah benarnya, ditunjukan kekurangannya, disalah-salahin, setiap hari dimarah-marahin, ditempa, itu baru kelasnya dihadapan guru mursyid sudah dianggap MURID.

Yang masih seneng minum teh/kopi bareng guru, foto-foto bareng, ngobral cerita dekat dengan orang-orang mulya {padahal yang dekat cuma fisiknya, bukan hatinya} itu namanya TAMU.

Yang mau membersihkan WC, mbabu pekerjaan dapur guru, ngurusi ngeladeni guru, itu namanya MURID.

Yang kalo datang masih seneng diladeni, diada-adakan suguhan, masih sempat hore-hore {plus selfie-selfie}, masih terkagum-kagum, masih ngobrolin orang-orang besar di depan guru, itu masih TAMU.

Yang berani mengorbankan lahir batinnya, pikiran waktu perasaan dan prioritas hidup dan hartanya untuk istiqamah berkhidmah pada guru itu baru MURID.

Yang kalo sowan guru masih karena sedang pusing banyak masalah, kebutuhan, keluhan, dikejar hutang, keluarga ribut, blm dapat jodoh, nyari baskom buat numpahin uneg-unegnya, itu masih tergolong TAMU.

Yang sowan karena niat yg kuat, keyakinan akan keberkahan guru, ikhlas tanpa kepentingan, dengan penuh ketawadhuan itu baru golongan MURID.

Yang masih suka cuma ngerekam ucapan guru, lalu disampaikan lagi di tempat lain {copas omongan tanpa diamalkan} seperti burung beo, pamer popularitas guru, pamer amaliyah {habis ikut ngaji, haul, manaqiban, ziarah dll} itu masih TAMU.

Yang setiap harinya sudah berkontribusi dalam penyelesaian masalah orang lain, memberi manfaat pada sesama, menjadi lentera penerang bagi sesama itu baru pakaian kesehariannya MURID.

Yang kalau sowan masih memperhatikan bangunan pondok/rumahnya, umur sang guru, mobil orang yang sowan, popularitas guru di media, keras atau lembut nasehatnya, itu masih kelas TAMU.

Yang kalo datang hanya memandang ketinggian derajat keilmuam guru, sanad keilmuannya yang bersambung sampai kanjeng Nabi, bobot pelajaran yg diberikan, perintah dan larangannya, penyamaran sikap dalam rangka menancapkan hikmah ke hati muridnya, kualitas “kabel/media dan setrum/pelajaran”nya, itu baru levelnya MURID.

Yang jumlahnya ribuan, masih senang masuk media, seneng ikut gemebyar panggung, kesana kemari tanpa bisa memetik hikmahnya, masih seneng ngundang pejabat dan orang terkenal, amal sekali diceritakan kemana-mana, itu masih kelas TAMU.

Yang lebih banyak ngumpet di atas sajadah, istiqamah ibadah di dalam kamar bertahun-tahun, tidak banyak bicara tapi rajin bekerja, amaliyahnya sungguhan bukan cuma di mulut, satu demi satu ajaran gurunya diamalkan, itu baru MURID.

Yang masih suka slonang-slonong di hadapan guru, komentar asal bunyi, menyela pembicaraan/nasehat guru, bibirnya gak punya rem {nyerocos di depan guru}, membanding-bandingkan guru dengan ulama/wali lain, atau terkadang memandang guru sebelah mata, itu masih TAMU.

Yang sejak awal sowan sudah menundukan akalnya, mendudukan hatinya, mengikat erat nafsunya {misalnya memaksa guru yg sedang lelah mendengarkan keluhannya}, berani memaksa ruhnya untuk tawadhu di hadapan guru, selalu hormat dan berhati-hati dalam bersikap atau berbicara kepada guru, ngerti strategi yg baik dan penuh tatakrama jika sedang benar butuh nasehat gurunya, itu baru MURID.

Yang gak bisa kesenggol aibnya, gak kuat hati utk didandani, gak kuat hati utk dibuka hatinya, serba ingin dimulyakan, itu namanya TAMU.

Yang selalu merasa tidak bisa berlaku benar di hadapan guru, selalu merasa banyak salah, gak suka dipuji, gak punya ruang di hatinya utk pamer urusan dunia, yang punya masalah berat tapi gak pernah mau mengeluh kepada guru {karena takut menambah beban pikiran guru}, itulah MURID.

Yang masih mudah terbawa arus, kesana kemari tanpa arah tujuan walau ngaku sudah punya guru mursyid, itu kelasnya masih TAMU

Adapun yg sudah bisa mengayomi dan menenteramkan, belajar memberi manfaat kepada sesama, selalu berusaha berbuat baik, bersedia direpotkan menyelesaikan urusan guru dan sesama manusia, teguh menegakkan kebenaran, dan berolah derajat mulia di hadapan Gusti Allah, itu baru kelasnya MURID

Mari kita introspeksi kawan, jangan-jangan kita ini pangkatnya baru TAMU, tapi sudah terlanjur GR merasa MURID.. Periksa diri.. sudah pantaskah kita mengaku MURID.

Sumber:
Salah seorang Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU)

__Terbit pada
22 Februari 2021
__Kategori
hikmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *