Sab. Jun 25th, 2022
taqwa. hidayatullah

Saat ngaji dalam halalbihalal di Masjid Jami Al-Fattah Nglundo Utara, Candimulyo, Senin (9/5/2022), KH M Khairil Anam Denanyar, menjelaskan ciri orang bertakwa. Takwa adalah predikat yang kita raih setelah berpuasa Ramadan.

“Berdasarkan huruf nya, ciri taqwa itu ada empat,” tuturnya.

Huruf takwa ada empat. Ta, qaf, wawu, ya.

“Ta itu maknanya tawaduk,” ucapnya. Tawaduk itu rendah hati. “Orang tawaduk itu mau mengakui kesalahan. Makanya setiap Idul Fitri, kita selalu mengucapkan mohon maaf lahir dan batin,” jelasnya.

Gus Anam menjelaskan, semua orang punya salah. “Tak ada orang yang tak punya salah,” tegasnya.

Hanya orang sombong yang merasa tak punya salah. Orang sombong selalu merasa benar. Orang sombong merasa bahwa orang lain lah yang salah.
Sehingga tak mau minta maaf.

Seperti iblis yang tak mau sujud kepada Nabi Adam alaihissalam. Iblis merasa lebih mulia karena diciptakan dari api. Sedangkan Adam alaihissalam diciptakan dari tanah.

Orang tawaduk selalu merasa orang lain lebih baik dari nya. Melihat orang tua, dia berpikir; Orang tua usianya lebih banyak. Pasti ibadah nya juga lebih banyak.

Lihat anak muda dia berpikir; Anak muda usianya lebih sedikit. Pasti dosanya juga lebih sedikit.

“Huruf kedua qaf, maknanya qanaah atau neriman,” urai Gus Anam. Agar bisa neriman, kita harus melihat orang yang dibawah nya dalam hal dunia.

Yang punya rumah sendiri lihat yang hanya ngekos. Yang ngekos lihat yang tinggal dijalanan.

Yang punya mobil lihat yang hanya punya motor. Yang punya motor lihat yang hanya punya sepeda ontel.

Yang punya sepeda ontel lihat orang yang kemana-mana jalan kaki.

Yang kemana-mana jalan kaki lihat orang yang tak punya kaki.

Baca Juga  Nabi Musa Dan Nabi Harun Berbagi Tugas

“Ketiga wirai, maknanya menjauhi segala yang haram,” tegasnya. Jangankan yang haram, bahkan yang syubhat pun dia jauhi.

Pak Dahlan Iskan cerita pernah ikut kelas Bahasa Inggris di Amerika.

Pas disuruh nulis, dia tolah toleh karena tidak bawa kertas.

Dia lihat di meja guru ada kertas kosong. Kebetulan pas itu gurunya lagi keluar.

Dia lantas mengambil kertas kosong di meja guru itu.

Pas dia ngambil kertas, gurunya masuk dan menegur.

Dahlan, kamu kok ngambil kertas kosong di meja guru!

Pak Dahlan menjawab; Ini kan hanya sekedar kertas kosong.

Gurunya menimpali; Bagaimana pun, itu kan bukan punya mu!

Pak Dahlan merasa benar-benar tertampar. Walaupun hanya secarik kertas kosong, itu kan bukan punya dia.

Kejadian itu terus diingat oleh Pak Dahlan. Agar tidak sampai mengambil apa yang bukan miliknya.

Setelah membaca cerita itu, saya juga selalu mengingat-ingat. Pokoke kalau bukan milikku, tidak akan aku ambil.

Malam-malam akhir Ramadan, pernah ada nasi kotak di depan kantor. Kalau tidak saya bawa, mungkin itu akan busuk mubazir.

Agar tidak mubazir, lebih baik saya bawa lalu saya berikan kepada orang di jalan.

Seketika saya ingat cerita Pak Dahlan itu. Bagaimana pun itu nasi kotak bukan punya saya.

Masio saya punya niat baik, itu tetap bukan milik saya. Saya tidak berhak mengambil nya.

Akhirnya saya biarkan. Bah busuk bah mubazir. Wong itu bukan punya ku..

Kalau yang punya nuntut saya di dunia, mungkin bisa saya bayar..

Tapi kalau dia nuntut saya di akhirat, gimana..

“Keempat huruf ya, makna nya yakin,” terang Gus Anam.

Yakin ini sangat penting. Yakin kalau musibah itu dari Allah subhanahu wa ta’ala maka akan membuat kita bisa sabar.

Baca Juga  Tiap Hari Orang Mati Berteriak 1000 Kali

Yakin kalau nikmat itu dari Allah subhanahu wa ta’ala maka akan membuat kita bisa syukur..

Yakin kalau yang memberi kita segala hal itu Allah subhanahu wa ta’ala maka kita akan bisa qanaah..

Yakin kalau kebaikan dan kejelekan itu adalah yang terbaik menurut Allah SWT bagi kita, maka kita akan bisa rida kepada Allah subhanahu wa ta’ala..

Mugi Allah subhanahu wa ta’ala paring kita saget ngelampahi..

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.