tahlil2

Fadlilah Bacaan Tahlil dan Istighotsah 03 (Dasar Kebolehan Tahlilan)

Sebagian ahli bid’ah mengatakan tidak akan sampai pahala sesuatu apapun kepada si mayit dari orang lain yang masih hidup, baik doa ataupun yang lain.
Perkataan mereka ini bertentangan dengan Al Qur’an, Assunnah dan Al Ijma’. Mereka selalu berdalil dengan firman Allah Ta’ala :

“ Dan bahwasannya seorang manusia tiada memiliki selain apa yang telah diusahakannya” Q.s. An-Najm :39


Ini adalah penafsiran yang tidak tepat, karena maksud ayat ini bukanlah menafikan bahwa seseorang mendapatkan manfaat dari apa yang dikerjakan oleh orang lain, seperti sedekah dan haji untuk orang yang telah meninggal, melainkan ayat ini menafikan kepemilikan terhadap amal orang lain.

Amal orang lain adalah milik orang lain yang mengerjakannya, karena itu jika ia mau, ia bisa memberikan kepada orang lain, dan jika tidak, ia bisa memilikinya untuk dirinya sendiri. Alloh Subhanahu wata’ala tidak mengatakan : “Tidak bermanfaat bagi seseorang kecuali amalnya sendiri”

Bukankah Allah ta’ala berfirman :

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajiriin dan Anshoor), mereka berdoa : “Yaa… Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami”. Q.S. Al Hasyr : 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa do’a bermanfaat bagi mayit, padahal do’a bukanlah amal orang yang mati, tetapi amal orang yang hidup.
Juga dalam banyak hadits yang masyhur Rosululloh mendoakan ahli kubur, seperti doa beliau ketika ziaroh ke pekuburan Al Baqii’ di Madinah :

“Yaa Alloh, ampunilah ahli kubur Baqi Al Ghorqod” (H.R. Muslim)

Juga doa beliau :

“Ya.. Alloh, ampunilah orang yang masih hidup diantara kami dan orang yang telah meninggal diantara kami” (H.R. at-Turmudzi, an-Nasa-i, dan Abu Dawud)

LDNU Kediri

__Terbit pada
23 November 2020
__Kategori
Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *