Sen. Mei 16th, 2022
gus yahya. (Sumber: NU Online)

Surat Ali ‘Imran Ayat 134

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Setelah terpilih sebagai ketua PBNU di Muktamar Lampung, banyak video ceramah Gus Yahya yang beredar. Salah satunya saat beliau memberi arahan Banser di PP Al Misbar Mojokerto 2018.

Yang Gus Yahya sampaikan di video, juga beliau sampaikan saat ngisi PKL PC GP Ansor Jombang di PP Mambaul Ma’arif Denanyar Jumat (29/10/2021).

Intinya, Gus Yahya mengajak kita semua menjadi pemimpin yang berjiwa besar. Sebab NU adalah organisasi besar.

“Organisasi besar hanya pantas dipimpin oleh orang-orang yang berjiwa besar,” kata Gus Yahya.

Orang yang berjiwa besar itu punya tiga ciri.

Pertama, ora pengecut. Pemimpin yang berjiwa besar harus berani.

Kalau berani ojo wedi-wedi. Kalau wedi, ojo wani-wani.

“Kalau setengah hati, silahkan pulang,” tegas Gus Yahya.

Pemimpin yang berani, tidak takut berkorban harta, jiwa dan waktu.

Misalnya sebagai pemimpin kita ingin di masjid/musala kita ada rutinan Dibaan.

Tentu harus mau berkorban waktu ikut hadir di Dibaan itu

Serta mau berkorban harta minimal buat sediakan minuman.

Pemimpin besar, kata Gus Yahya, tidak takut apapun dalam rangka mengejar rida Allah subhanahu wa ta’ala.

Kedua, pemimpin besar itu ora gragas. Ora tomak. Tidak kemecer menginginkan apa yang ada di tangan orang lain.

Rasulullah Muhammad sollallahu alaihi wa sallam bersabda; Kalau kita disuguhi, ya makan lah apa yang ada di depan kita.

Jangan menjulur-julurkan tangan mengambil suguhan yang ada di depan orang lain.

Ora yang tomak atau gragas, mudah menjual diri demi apa yang digragasi tadi.

Seperti kisah Bani Israil. Mereka diperintahkan ibadah tiap hari Sabtu.

Baca Juga  MENELADANI FATIMAH BINTI MUHAMMAD SALLALLAHU ALAIHI WASSALAM

Lalu Allah menguji. Tiap hari Sabtu, ikan di laut sangat banyak bahkan sampai ngambang-ngambang di pantai.

Orang-orang Bani Israil akhirnya lebih memilih golek iwak. Serta meninggalkan ibadah Sabtu.

Yang seperti itu bukan tipe pemimpin berjiwa besar.

Kita diperintahkan salat Jumat. Masio ada yang bayari supaya tidak salat Jumat, kita akan tetap salat Jumat.

“Pemimpin besar tidak akan menjual gagasan besarnya demi apapun,” tegas Gus Yahya.

Jangan sampai karena uang dan sembako, kita pindah keyakinan.

Jangan sampai karena dunia yang singkat, kita mengorbankan akhirat yang selama-lamanya.

Ketiga, pemimpin besar itu tidak gampang mangkelan. Pemimpin besar harus bisa menahan marah dan sanggup memaafkan.

Contohnya banyak.

Rasulullah Muhammad sollallahu alaihi wa sallam tiap hari diludahi tetangganya.

Tapi tatkala si tetangga sakit, justru Nabi yang pertama menjenguk.

Ini karena yang diutamakan Nabi adalah agar orang itu mau iman.

Nabi tiap hari dicaci maki oleh pengemis buta di pasar. Namun Nabi justru tiap hari menyuapi nya.

Ini karena yang diutamakan Nabi adalah agar orang itu beriman.

Setelah Nabi wafat, pengemis itu baru tahu yang menyuapinya selama ini adalah Muhammad yang selama ini dia jelek-jelekan. Hingga akhirnya masuk Islam.

Gus Dur sangat dimusuhi Presiden Soeharto. Namun setelah Pak Harto lengser, Gus Dur justru mendatangi Pak Harto tiap hari raya.

Intinya, pemimpin besar itu fokus untuk mewujudkan cita-cita besar nya.

Sehingga meski dipuji, dicaci atau pun dimaki, dia tidak gampang goyah.

Cita-cita kita adalah meraih rida Allah subhanahu wa ta’ala dan mewujudkan perdamaian dunia.

Hal-hal remeh diluar itu mestinya tidak bisa menghalangi langkah kita..

Mugi Allah subhanahu wa ta’ala paring kita saget ngelampahi

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.