Sen. Agu 8th, 2022
Tawassul bukan membuat perantara antara kita dengan Tuhan. Sama sekali bukan. Tuhan Maha Dekat, mustahil ada bisa lebih dekat lagi sehingga berperan sebagai perantara. Malah jadi benang kusut ketika ada yang mengumpamakan tawassul seperti orang yang mau menghadap presiden tapi terlalu tinggi sehingga harus lewat ajudannya dulu. Ini perumpamaan salah total apabila dipakai untuk kasus seorang hamba dengan Allah Yang Maha Dekat.
Kalau mau diumpamakan, tawassul itu seperti ketika seseorang menghadap langsung presiden untuk suatu keperluan. Di saat sudah berbicara empat mata, dia bercerita bahwa dirinya adalah teman baik anaknya pak presiden. Tujuan ceritanya hanyalah untuk merayu Presiden agar bisa lebih menerima dirinya sebab ada hubungan baik antara dia dengan anaknya.
Dalam kasus hubungan hamba dengan Allah yang dinyatakan bahwa Ia lebih dekat dari urat leher hambanya, seorang hamba yang salih pasti “berbicara langsung” pada Allah dan memohon langsung tanpa ditengahi siapa pun. Hanya saja adakalanya si hamba “merayu” Allah dengan menyebut-nyebut kecintaannya pada Nabi Allah atau para Waliyullah. Tujuannya hanya satu, agar Allah lebih menerima permohonan langsungnya itu tadi.
Bolehkah menggunakan teknik “rayuan” semacam ini dalam doa? Ini bab fikih, bukan bab akidah. Ulama fikih empat mazhab menyatakan boleh.
Dalam suatu hadis disebutkan bahwa Nabi Muhammad pernah mengajarkan berdoa seperti ini:
اللهم إني أسألك واتوجه أليك بنبيك نبي الرحمة
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu dan menghadapmu dengan bertawassul dengan Nabimu, Sang Nabi Kasih Sayang.”
Itu doa langsung atau doa tidak langsung? Jelas doa langsung. Tapi itu juga metode “rayuan tawassul”. Jadi tawassul itu bukan mengesankan bahwa Allah jauh tak terjangkau sehingga butuh perantara, tapi justru mengesankan bahwa kitalah yang butuh memohon langsung pada Allah dengan berbagai cara.(*)
Cp: Gus Abdul Wahab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.