Sab. Jun 25th, 2022
Menasehati. (Ilustrasi: Pexels.com)

Saat pelatihan salat di Masjid Ar Rohman, Candi Indah Candimulyo, Jombang, Ahad (13/3/2022), DR Yusuf Suharto dari Aswaja Center Jatim, cerita, betapa kita harus hati-hati kala menasehati.

Ustad Yusuf cerita, punya teman yang kala ngimami sering baca QS Al Qadr atau inna anzalna.

Nah, pas sampai ayat keempat diatas, temannya selalu keliru. Tanazzalul malaikatu, dibaca tanazzalul malaikati.

Karena kesalahan nya terus berulang, akhirnya Ustad Yusuf mengingat kan. “Gara-gara itu saya tidak disapa sebulan,” ucap Ustad Yusuf.

Masih untung hanya tidak disapa..

Saya pernah baca berita di koran Jawa Pos. Ada kejadian di Madura. Suatu malam, ada orang tadarus Alquran di masjid atau musala.

Karena salah baca, akhirnya diingatkan oleh temannya.

Saat Ramadan seperti ini, di masjid musala memang ada tadarusan. Gantian nyimak dan baca Quran.

Rupanya, yang diingat kan tadi tidak terima. Sehingga ketika yang mengingatkan pulang, dicegat ditengah jalan. Lalu dibacok..

Hanya gara-gara mengingat kan saat tadarus, akhirnya dibacok.

Setiap Ramadan, saya selalu ingat berita itu. Mugi Allah subhanahu wa ta’ala paring tidak ada kejadian seperti itu lagi.

Imam Syafi’i berkata;
“Sampaikan nasehatmu kepadaku saat aku sendirian. Dan jangan katakan nasehat itu kala banyak orang. Karena memberi nasehat di kalangan banyak orang adalah salah satu bentuk dari pelecehan, aku tidak senang mendengarnya. Apabila saran dan ucapanku ini tidak kau perhatikan. Janganlah menyesal jika sekiranya nasehatmu tidak ditaati.”

Alkisah, ada seorang alim bernama Yunus bin Abdul A’la. Dia adalah salah seorang murid Imam Syafi’i. Suatu ketika, Imam Syafi’i mengadakan majelis ilmu di salah satu masjid yang dihadiri oleh beberapa muridnya. Yunus turut hadir dalam majelis tersebut.

Baca Juga  Mengikuti Wahyu Vs Mengikuti Nafsu

Dari pemaparan sang guru, ada satu penjelasan yang tidak disetujuinya. Yunus lantas berdiri dengan wajah marah lalu meninggalkan majelis dan pulang ke rumahnya.

Di malam harinya, Yunus mendengar suara pintu rumahnya diketuk seseorang.

“Siapa?”

“Muhammad bin Idris,” terdengar jawaban dari luar. Karena tak kunjung dibuka, terdengar suara lagi dari luar, “Ini Syafi’i.”

Mendengar nama itu, Yunus bergegas membuka pintu dan ia pun tergugup mendapati gurunya telah berdiri di depan pintu.

Setelah masuk, Imam Syafi’i memberikan nasehat kepada Yunus:

“Yunus, ratusan masalah menyatukan kita. Apakah hanya karena satu masalah, kita harus berpisah? Janganlah engkau berupaya untuk selalu menang dalam setiap perdebatan. Karena memenangkan hati lebih utama daripada memenangkan perdebatan. Jangan kau hancurkan jembatan yang sudah kau bangun dan kau seberangi. Karena bisa jadi engkau membutuhkannya untuk kembali suatu hari nanti.”

Yunus tertunduk. Imam Syafi’i melanjutkan nasehatnya dengan penuh kelembutan;

“Upayakan engkau selalu membenci kesalahan, bukan membenci pelakunya. Marahlah engkau pada maksiat, tapi maafkan pelakunya. Kritiklah pendapat orang, namun tetap hormatilah orangnya. Tugas kita dalam hidup ini adalah membunuh penyakit, bukan membunuh orang yang sakit. Jika orang datang padamu untuk meminta maaf, berilah maaf! Kalau engkau didatangi orang yang bingung, dengarkanlah keluhannnya! Jika ada seseorang mendatangimu untuk meminta bantuan, berilah ia dari sebagian apa yang diberikan Allah kepadamu! Bila ada yang datang menasehatimu, berterimakasihlah padanya!”

Setelah memberikan nasehat tersebut, Imam Syafi’i bergegas meninggalkan rumah sang murid. Yunus pun takjub dengan sikap gurunya.

Sebagai guru, bisa saja Imam Syafi’i mengingatkan nya langsung di majelis. Namun Imam Syafi’i memilih mengendap-endap di malam hari demi mendatangi rumah nya untuk mengingat kan.

Baca Juga  COD - Kirim Paket Doa Ke mayit

Imam Syafi’i sebagai guru, sangat menjaga perasaan muridnya.

Mugi Allah subhanahu wa ta’ala paring kita saget meneladani.(*)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.