jamu kuat

Hukum Minum Jamu Kuat?

Salah satu usaha menuju keluarga sakinah yaitu dengan merawat keluarga supaya langgeng dan harmonis, nafkah lahir maupun batin untuk menghasilkan keturunan dan mencukupi kebutuhan biologis perlu dijaga dengan sebaik mungkin.

Sabda Rasulullah ﷺ sebagaimana diriwayatkan oleh Sahabat Anas :

Artinya: “Nikahilah wanita yang penuh kasih sayang, yang banyak anaknya. Sesungguhnya aku akan berlomba banyak dengan kalian besok di hari kiamat.” (HR. Ibnu Hibban)

kaum adam sering menggunakan mengonsumsi obat kuat seperti ramuan telur, madu dan jahe atau obat-obatan sejenis dalam rangka menjaga agar pekerjaan ranjangnya melayani istri berkualitas baik sehingga istri merasa puas.

Bagaimana Hukum Minum Jamu kuat?

didalam kitab I’ânatuth Thâlibîn menyebutkan “Dianjurkan mengkonsumsi jamu kuat yang tidak membahayakan secara medis dan dengan niat yang baik seperti iffah (terhindar dari haram) dan mencari keturunan. Sebab obat kuat adalah sarana untuk kebaikan maka juga dihukumi baik. Sudah banyak orang yang meninggalkan obat kuat ini akhirnya menyebabkan bahaya dalam bersetubuh” (Ianah Ath-Thalibin 3/274)

Selain itu, hubungan ranjang yang berkualitas dinilai menjadi salah satu faktor suami untuk kian dicintai. Sedangkan suami dianjurkan melakukan ikhtiar supaya dicintai istrinya.

Jadi bisa disimpulkan bahwa minum obat kuat diperbolehkan oleh agama.

salam

__Terbit pada
16 Oktober 2020
__Kategori
Kajian Fikih
2

2 comments on “Hukum Minum Jamu Kuat?”

  1. Siiip lah kula gen kadang2 jamu ngoten waune sih sempat was2 angsal ta mbotene gara2 miskin ilmu …alhamdulillah sekarang mpun angsal ilmune dados mboten was2 malih .maturnuwun gih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *