Sen. Mei 16th, 2022
Ibadah. (foto: Istimewa)

Saat wisuda BMQ Attartil di Ruang Bung Tomo Pemkab Jombang, Ahad (13/2/2022), KH Lukman Hakim Tambakberas menjelaskan dua macam ibadah. Ibadah mutaaddi yang dampaknya panjang. Dan ibadah qosir yang dampaknya pendek.

“Ibadah mutaaddi lebih utama dari pada ibadah qosir,” tutur Kiai Lukman.

Ibadah qosir contohnya seperti salat. Dampak salat ini hanya bisa dirasakan kita sendiri yang melaksanakan.

Ibadah mutaaddi contohnya mengajar. Ini efeknya panjang. Anak yang kita ajari, kelak bisa menjadi guru. Dia ngajari muridnya. Muridnya mengajari muridnya. Sehingga berdampak jangka panjang.

Ketua MUI Jombang sekaligus Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso, KH Cholil Dahlan, pernah mencontohkan.

Guru yang punya jam mengajar, harus mengutamakan mengajar. Jangan sampai mbelani salat Duha 12 rakaat, akhirnya mengajarnya telat.

Sebab ngajar itu ibadah mutaaddi. Salat Duha itu ibadah qosir.

Pengasuh PP Sunan Ampel Jombang, KH Taufiqurrahman Muchid, pernah cerita KH Mansur. Abahnya Gus Qoyum Mansur, Lasem, Rembang.

Kiai Mansur itu setiap habis Magrib ngajar ngaji. Kalau ada undangan tahlilan pas habis Magrib, Kiai Mansur pasti lebih mengutamakan ngajar.

Ngajar itu ibadah mutaaddi. Tahlilan itu ibadah qosir.

Gus Baha juga pernah menyampaikan hal yang sama. “Kalau tidak lebih sepuh dari saya, ngundang saya ceramah itu haram,” tegasnya.

Gus Baha punya santri yang dititipkan para orang tua. Ngajar para santri itu hukum nya wajib.

Ngundang Gus Baha ceramah, berarti membuat Gus Baha tidak bisa menjalankan kewajiban ngajar para santri.

Kecuali kalau yang ngundang lebih sepuh. “Kalau yang ngundang lebih sepuh, saya mau. Karena wajibnya lebih tinggi. Jadi saya punya alasan menggugurkan kewajiban yang lain,” tegasnya.

Tapi kalau yang ngundang ceramah tidak lebih sepuh, maka yang lebih wajib adalah ngajar para santri.

Baca Juga  Pahala 700 Derajat, Amalan Apa?

Almarhum KH Syaerozi Lamongan pas ngisi acara guru TPQ di Masjid Agung Baitul Mukminin Alun-Alun Jombang pernah pesan. Kita harus matur nuwun kalau ada orang mau kita ajari.

Sebab itu artinya kita punya lahan untuk menanam kebaikan yang pahalanya terus mengalir sampai kita mati.

Anak kecil kita ajari Bismillah. Maka tiap anak itu baca bismillah, kita dapat kiriman pahala nya.

Anak itu ngajarkan bismillah ke orang lain. Lalu orang lain itu mengamalkan. Maka setiap orang lain itu baca bismillah, kita juga dapat kiriman pahala. Demikian seterusnya..

Makanya Syekh Jalaluddin Rumi bilang. Bukan kematian yang aku takutkan, karena kematian bukanlah akhir dari segalanya.

Yang aku takutkan adalah mati tanpa tinggalan amal yang pahalanya terus mengalir. Aku takut mati dalam kondisi masih ada ilmu yang belum aku sampaikan kepada orang lain..

Mugi Allah subhanahu wa ta’ala paring kita saget mengamalkan dan menyebarkan ilmu..

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.