Kam. Des 1st, 2022

Semarang, NU Online 

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, kiai yang dikenal ahli di bidang ilmu hisab, KH Sulchan wafat. Kabar duka ini disampaikan oleh menantunya Mohammad Ichwan di berbagai grup aplikasi percakapan WhatsApp (WA) dan akun Facebook (FB) pribadinya, Kamis (1/7).

“Mengabarkan, abah saya, KH Sulchan bin K Amin Baidlowi, telah wafat. Hari ini, Kamis, 1 Juli 2021 jam 16.50 WIB,” tulisnya.

Pemimpin Umum NU Online Jateng Samsul Huda mengungkapkan, Kiai Sulchan pada masa mudanya pernah menjadi Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Mranggen, Demak, dan aktif di Pramuka.

“Rekan seangkatannya memberi nama panggilan Sulhan Pasaribu karena rumahnya di Jl Raya Mranggen berseberangan dengan pasar kerbau atau Pasar Legi, pasar hewan Mranggen yang kini pindah di Mondosari. Pasaribu digunakan kawan seangkatannya untuk membedakan dengan Sulhan Noor,” katanya.

Ichwan, sapaan akrab Muhammad Ichwan saat dikonfirmasi NU Online Jateng menjelaskan, Kiai Sulchan lahir di Demak, 18 Agustus 1953. Ia pernah mengajar ilmu falak di Pesantren Futuhuhiyyah Mranggen Demak di era 1970 sampai 1980-an.

“Dari sisi keahlian, beliau itu ahli aljabar, matematika, ilmu hisab. Semua kiai Semarang kalau pernah mondok di Futuhiyyah itu pasti kalau belajar aljabar itu yang mulang beliau,” ungkapnya.

Ichwan menyebut KH Qadirun Nur yang pernah mengajar di Madrasah Aliyah Futuhiyah 1, dan KH Syarofuddin Husain Pengasuh Pesantren Syaroful Millah, yang ada di Penggaron Lor, Kecamatan Pedurungan sebagai contoh muridnya yang berhasil. Selain itu, keahlian ilmu hitung juga diturunkan kepada cucunya, putra pertama Ichwan dengan Misbahatul Hidayati.

“Beliau memang suka ilmu hitung, buktinya salah satu cucunya, anak pertama saya itu yang mulang beliau, senang matematika dan biasa juara lomba olimpiade matematika,” urainya.

Baca Juga  Hukum Investasi Koin Kripto melalui 'Staking' dan 'Farming' di Dompet Digital

Meski terbukti sebagai kader Nahdlatul Ulama (NU) yang potensial, Kiai Sulchan tidak tertarik untuk melanjutkan karir organisasinya di kepemudaan maupun NU. Ia lebih memilih mengajarkan islam ahlussunnah wal jamaah kepada masyarakat melalui tempat ibadah. Dari kegigihannya berjuang menjaga akidah masyarakat yang ada di sekitarnya itulah yang memberikan kesan tersendiri.

“Abah Sulchan itu kalau kesan umum yang ada di masyarakat, beliau itu istiqamah, selalu jamaah lima waktu, dan selalu di masjid. Bahkan ketika bepergian, musafir pun selalu shalat jamaah di masjid. Nek coro istilah Gus Dur iku beliau iku sosok kìai kampung bener-bener ngopeni masjid tok, gak tau liyane,” urainya.

“Lha wong ikut (struktur organisasi) iku baru kemarin setelah NU Ranting Plamongan Sari terbentuk, beliau masuk mustasyar,” imbuhnya menjelaskan.

Kiai Sulchan adalah salah satu contoh sosok yang berhasil menikmati masa tua dengan istiqamah beribadah dan fokus berjuang membina faham keagamaan masyarakat. Hal itu terbukti dengan gigihnya merintis Masjid Jami’ Darussalam Plamongan Indah.

“Di masa tuanya ini bener-bener full istiqamah mangku masjid, merintis dari mushala cilik dibangun sampai jadi masjid jami’ yang megah, yang paling utama itu,” kata Ichwan menjelaskan.

Selain di Futuhiyyah, Kiai Sulchan juga pernah mengajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 6 Kota Semarang. Karena itu, kabar yang tersebar di WA diunggah Johanes Cristiono ke grup FB Media Informasi Kota Semarang (MIK Semar) yang langsung ramai dikomentari warganet. Sedikitnya ada 8 share, 548 tanggapan, dan 100 komentar.

Almarhum meninggalkan seorang istri, Hj Nur Millati dan empat orang anak yakni Misbahatul Hidayati, Fahmi Albarr, Farid Shobri, dan Ulfi Khabibah. Selain itu juga meninggalkan tiga menantu, Muhammad Ichwan, Titi Susanti, dan Rahmi Faida

Baca Juga  RUKUK SUJUD GAYA SAT SET

Almarhum diberangkatkan dari rumah duka, Jl Kelapa Gading VII/531 Plamongan Indah, Pedurungan, Kota Semarang menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dusun Branti, Desa Jurangagung, Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal pada Jumat (2/7) siang ini tanpa aturan protokol kesehatan

“Mohon doa dan keikhlasan panjenengan, jenazah di rumah duka Jl Kelapa Gading VII/531 Plamongan Indah Pedurungan Semarang,” tuturnya.

Terkait lokasi pemakaman, Ichwan mengungkapkan wasiat Kiai Sulchan yang disampaikan kepada putrinya Misbahatul Hidayati atau yang akrab disapa Ida. “Soal dimakamkan di Plantungan itu memang wasiat beliau kepada istriku, anak pertamanya, pengen kumpul sama mertuanya karena sayang banget, terus ada adik iparnya,” jelasnya.

Karena wasiat itu, Kiai Sulchan tidak dimakamkan di kompleks makam keluarga Pedurungan maupun makam umum Plamongansari yang dirintisnya. Selamat jalan guruku, ahli falak Semarang. Semua kawan dan muridmu bersaksi engkau orang baik, Insyaallah surga merindukanmu. Alfatihah.

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Editor: Ahmad Hanan

Sumber : NU Online jateng

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *