Kam. Des 1st, 2022

Pesantren Tambakberas merupakan salah satu dari pesantren dengan usia dua abad pada tahun 2025 ini. Pesantren yang berdiri 120 tahun sebelum Indonesia merdeka ini, memiliki sejarah panjang dengan estafet keteladanan dari para kiainya, dari generasi ke generasi.

Para kiai pesantren Tambakberas menorehkan usaha pengembangan santri dan masyarakat, baik dengan ikhtiar dhahir maupun batin. Di samping aktivitas mengajar yang telah menjadi kesibukan sehari-hari para kiai, tercatat pula beberapa kiai Tambakberas yang menuangkan pemikirannya dalam bentuk tulisan.

Karya tulis para kiai Tambakberas, ada yang berupa kitab sebagai pegangan para santri dalam pengajian. Ada pula yang berupa terjemah kitab berbahasa arab guna meningkatkan pemahaman para santri. Terdapat juga kumpulan tulisan kiai di media sosial, yang akhirnya dibukukan. Didapati pula kumpulan syi’ir yang diberikan saat pengajian, yang selabjutnya dibukukan. Dan terakhir berbentuk kumpulan doa yang dibaca para santri setiap harinya.

Tradisi kepenulisan kiai Tambakberas tercatat dimulai pada era kiai Wahab dan kiai Hamid. Mbah Yai Wahab walaupun lebih dikenal sebagai kiai penggerak/muharrik yang dinamis dengan mobilitas tinggi, ternyata didapati memiliki sebuah karya tulis berjudul penyirep gemuruh. Karya tulis tersebut berisi penjelasan dari musyawarah 14 kiai terkait perluasan masjid peneleh guna meredam polemik yang terjadi saat itu. Pidato-pidato mbah wahab dalam rapat kenegaraan di DPR dan konstituante, juga telah dikumpulkan dalam buku susunan Abdul Mun’im DZ. Dari situ, sedikit banyak kita bisa memahami pemikiran mbah wahab. Mbah Wahab memang dikenal sebagai kiai yang menggelorakan tradisi tulis menulus di kalangan NU generasi awal. Bahkan beliau sendiri yang membeli mesin cetak guna perintisan media cetak Soeara NO.

Kiai Hamid Hasbullah, adik kandung mbah wahab. dikenal sebagai pencinta Al Qur’an. Konon kiai Hamid memiliki Al-Qur’an tulisan tangan beliau sendiri. Kecintaan mbah Hamid terhadap al Qur’an tidak diragukan lagi. Kewafatannya pada pertengahan 1950an pun saat hendak membacakan kitab Tafsir Jalalain untuk para santri di bulan Ramadhan. Konon sejak mesantren ke Kiai Munawwir Krapyak Yogyakarta, mbah Hamid sudah dipercaya menjadi Qori’ Yafsir bagi para santri Krapyak generasi awal.

Baca Juga  MAKSUM Vs MAKLUM

Pada era selanjutnya, terdapat beberapa kiai yang memiliki karya tulis. Kiai Nashrullah Abdurrohim, cucu kiai Hasbullah, memiliki kitab berjudul At-Tibyan fii Bayyaani Aayaatil Ahkaami minal Quraan. Kitab at-Tibyaan yang terbagi menjadi tiga jilid ini berisi tentang tafsir ayat Al Qur’an yang terkait dengan hukum. Kitab ini di samping dikaji di pesantrennya sendiri, As-Sa’idiyah Bahrul Ulum, juga pernah beliau bacakan pada pengajian rutin di kantor PWNU Jawa Timur kisaran awal tahun 1990-an. Saat beliau menjadi Katib Syuriyah PWNU Jatim, dengan kiai Imron Hamzah sebagai Ro’is Syuriyahnya. Pengajian Yai Nas di kantor NU ini, diulas oleh kiai Aziz Masyhuri Denanyar di majalah Aula.

Kiai Nasrul juga termasuk  kiai yang memiliki vanyak amalan, hizib, maupun wirid. Tersebar dalam catatan para santrinya, namun belum dibukukan.

Kiai Djamaluddin Ahmad, menantu kiai Fattah Hasyim, tercatat sebagai kiai yang produktif menghasilkan karya tulis. Di samping karya tulis di bidang tasawuf, tercatat kiai Jamal menganggit pula kitab berbahasa arab dalam bidang ilmu Ushul Fiqh yang berjudul Miftaahul Wushuul. Selain itu, kiai Jamal juga menulis kitab Al-Inaayah. Penjelas atau syarah atas kitab nadzom kaidah Fiqh berjudul al-Faroidul Bahiyah.

Dalam bidang Tasawuf, kiai Jamal tercatat memiliki lebih dari 60 karya tulis. Baik yang berbentuk buku saku hingga buku yang memiliki ratusan halaman seperti antologi Tasawuf. Syi’ir berbahasa Jawa yang selalu Kiai Jamal bagikan kala pengajian rutin al-Hikam Senin malan Selasa di Pesantren Al-Muhibbin Barul Ulum, pada akhirnya juga dibukukan. Syi’ir-syi’ir yang digubah kiai Jamal, semuanya terkait dengan bahasan kitab Al-Hikam. Metode ini semakin memahamkan masyarakat umum terkait materi yang disampaikan. Ditambah suara merdu kiai Jamal kala membacakan syi’ir dan Burdah. Kiai Jamal memang sudah dipercaya oleh mbah Yai Wahab memimpin pembacaan burdah/Huwal Habiib sejak saat menjadi santri Tambakberas kisaran awal tahun 1960an.

Baca Juga  NU Dan Partai

Agenda tahunan ziarah yang diadakan kiai Jamal, juga dilengkapi dengan karya tulis beliau tentang wali-wali yang diziarahi. Akhirnya tercetak beberapa jilid buku berjudul Napak Tilas Auliya.

Keahlian Kiai Jamal memaparkan tentang cerita-cerita para ulama’ terdahulu, juga beliau tuliskan dalam buku berjudul 101 Kisah. Kiai Jamal banyak memaparkan kisah yang belum banyak diketahui orang. Termasuk yang ada dalam kitab an-Nawadir. Semua kitab kiai Jamal diterbitkan oleh penerbit Pustaka Al-Muhibbin.

Kiai Sulthon Abdul Hadi, menantu kiai Fattah, tercatat memiliki karya tulis berjudul Majmu’atul Ad’iyyah fii Kulli Sanahma’al Kayfiyah al-Sahlah. Kitab berbahasa arab cetakan tahun 1995 M ini, berisi kumpulan doa awal tahun, doa akhir tahun, hal-hal yang dimohonkan pada Allah pada hari asyuro dan Nisfu Sya’ban, tata cara shalat tasbih. Kiai Sulthon asal Jepara, murid Kiai Sahal Mahfudz  Kajen, merupakan lulusan Madrasah Mathole’ Kajen yang piawai dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris. Tercatat, para kiai Tambakberas juga memiliki buku kumpulan /Majmu’ Wirid yang diamalkan di ribathnya masing-masing.

Kiai Nashir, putra kiai Fattah, juga memiliki kumpulan tulisan di media sosial yang dibukukan oleh pustaka pondok Induk. Berjudul Kiai Nashir on Facebook. Kiai Nashir yang juga Rois Syuritah NU Jombang, memang memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni. Pendidikannya di samping di Tambakberas sendiri, juga ditempuh di Kajen, Sarang dan Makkah.

Kiai Jabbar Hubbi, cucu Kiai Fattah, menulis kitab berjudul al-Masaa’il fii Ilmil Farooidl. Kitab ini mengkaji tentang ilmu waris Islam. Satu cabang ilmu yang langka dan mulai jarang dikaji. Kiai Jabbar menempuh pendidikannya di pesantren lirboyo dan pesantren Bandungsari di bawah asuhan kiai Abdul Wahid Zuhdi, santri kiai Maimun Zubair yang alim.

Baca Juga  Karomah Kiai Adlan Aly Isi Bahan Bakar Mobil dengan Air Kelapa

Kiai DR. Ainur Rofiq Al Amin, menantu Kiai Soleh Hamid, merupakan penulis produktif yang melawan pemikiran khilafah ala Hizbut Tahrir. Artikelnya tentang berbagai hal pun banyak termuat di media cetak nasional.

Kiai Yahya Husnan, menantu Kiai Jamal, menerjemahkan dan mengulas kitab al-Faroidul Bahiyah. Terjrmahan tersebut berjudul ats-Tsamaroot al-Mardliyyah. Kiai Yahya Husnan, hafidz Qur’an asal Sendang Paciran ini, mengampu bertahun-tahun mata pelajaran Qowaid Fiqh di Madrasah Mu’allimin Mu’allimat tambakberas.

Tim Sejarah yang terdiri dari dzurriyah keempat Bani di Tambakberas juga telah menerbitkan sebuah buku berjudul tambakberas, Menelisik Sejarah, Memetik Ukhuwah. Bagi santri, alumni, simpatisan, warga NU dan pemerhati pesantren, buku ini terbilang cukup untuk memahami pesantren tambakberas dengan sejarah panjangnya. Tim ini digawangi oleh Kiai Azam Khoiruman putra Kiai Najib Wahab, Kiai Jabbar Hubbi, putra Kiai Hubbi Fattah, Nyai Nidaus Sa’adah putri Kiai Al-Fatih Abdurrohim, dan Nyai Bashirotul Hidayah, putri kiai Jamal, serta Kiai Rofiq al-Amin, menantu kiai Soleh Hamid.

Kiranya, masih banyak lagi karya tulis kiai, dzurriyah dan guru pesantren tambakberas. Baik yang berupa Kitab, Taqrirot/ulasan kitab, Tesis maupun disertasi. Akan penulis paparkan lain waktu. Terkait karya Kiai Abdul Djalil Mojokrapak, akan diulas pada tulisan tersendiri.

Keteladanan kiai tambakberas dalam bidang kepenulisan literatur keagamaan ini, semoga bisa dilanjutkan oleh para santri dan alumninya. Teringat sebuah syi’ir ber-Bahar Basith,

Al khoththu yabqoo zamanan ba’da shoohibihi#
Wa kaatibul khoththi tahtal ardli madfuunu

Tulisan itu akan lestari dikaji dipelajari, walaupun penulisnya telah wafat terkubur dalam tanah.

Penulis: A. Taqiyuddin Mawardi

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *