Kisah Inspiratif – Cinta Sampai Akhir Hayat Gus Dur dan Sinta (2)

Lanjutan…

“Apa…itu, Mas Dur?” Jawab sinta tak kalah terbatanya.

“Jika nanti saatnya aku memejamkan mata dan dimakamkan, tak boleh ada air mata yang meluap dan basah di pipimu lagi?”

Di salah satu sudut kamar RSCM itu sebagai saksi, sepanjang malam ada sepasang kekasih yang dua pasang matanya terus basah oleh air mata, tetapi kedua bibirnya sekuat tenaga saling menunjukkan untuk tersenyum dan mengenang sesuatu yang indah ketika masa muda. Demikianlah, telah tercipta hujan, telah tercipta matahari, maka lahirlah pelangi yang begitu menawan sebagai sebuah kisah.

Rombongan itu pun mulai bergerak meninggalkan makam Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Beberapa asisten pribadi Gus Dur dan Sinta membisikkan tentang kesehatan mereka.

“Bapak, ibu, mari kita pulang… Sudah saatnya minum obat dan istirahat…”

Sinta dan Gus Dur yang mendapat nasihat itu tersenyum. Mereka sama-sama melepas pegangan tangan yang sedari tadi tampak erat dan mesra.

“Suamiku, aku mencintaimu,” bisik Sinta di telinga Gus Dur

“Aku juga, Dik Sinta. Maut takkan pernah memisahkan kita selamanya..”

Mereka berdua saling tatap dengan pandangan mata yang penuh cinta dan kemesraan.

Dua kursi roda itu pun didorong oleh asisten masing-masing.

Rombongan segera meninggalkan petilasan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Di sepanjang perjalanan, Sinta dan Gus yang duduk di tempat terpisah sesekali saling pandang. Saling melempar senyuman. Lalu tangan mereka berpegangan. Erat dan erat sekali.

“Hidup adalah waktu. Ketika waktu ingin menghentikan hidup maka berakhirlah hidup manusia. Tetapi, cinta jauh lebih abadi daripada ruang dan waktu. Dunia ini beserta isinya tercipta oleh cinta, dan dari rahim cinta itulah jagad semesta ini terlahir.” Ucap Gus Dur.

Sinta hanya diam menunggu kata-kata suaminya selanjutnya.

“Ketahuilah, Dik Sinta. Di dalam cintaku ada namamu. Namamu itulah yang akan abadi melebihi waktu. Mungkin orang-orang kebanyakan menilai, kita saling jatuh cinta hanya di dunia ini. Padahal cinta kita abadi. Sebelum kita lahir ke dunia dan setelah kita mati meninggalkan dunia, kita sejatinya telah berdua. Bersama-sama. Kita adalah sepasang jiwa yang berasal dari satu jiwa. Tuhan menciptakan kita dari jiwa yang sama, kemudian jiwa yang satu itu dipecah oleh Tuhan dan kita dipertemukan lagi di dunia ini. Kelak, di akhirat, jiwa kita akan kembali bersatu.”

“Suamiku, Mas Dur, sebegitu dalamkah cintamu padaku?”

“Betul, Dik. Cintaku padamu melebihi batas kemampuan kosa kata. Cintaku lebih suci daripada waktu. Cintaku lebih nyata daripada ruang. Cintaku padamu, Dik Sinta, lebih abadi daripada ruang dan waktu. Sebab cintaku padamu lahir dari kasih dan sayang Allah. Yang Maha Abadi. Cintaku padamu sejak dulu hingga hari ini, atas nama Allah. Tuhan Yang Maha Cinta dan Maha Mencintai.”

Mobil terus melaju kencang. Menuju Jakarta.

Para rombongan peziarah itu harus kembali kepada realitas sehari-hari, dan bertanggung jawab menjaga kesehatan Gus Dur, mantan Presiden RI, dan istrinya, Sinta Nuriyah.

Sumber : NU Jatim Online

__Terbit pada
27 Maret 2021
__Kategori
profil, Sejarah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *