Mahasantri Ma’had Aly Perlu Terbuka dengan Kemajuan Zaman

Jombang, NU Online

Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kemenag RI, Muhammad Ali Ramdhani meminta mahasantri Ma’had Aly seluruh Indonesia untuk berpikir terbuka dengan kemajuan zaman.

Hal ini disampaikannya dalam Stadium General Ma’had Aly Hasyim Asy’ari di Gedung Yusuf Hasyim lantai tiga Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur.

“Kekuatan masa depan berada pada kekuatan teknologi digital. Oleh sebab itu, para santri harus menguasai teknologi digital. Jepang sudah ke 5.0,” jelasnya, Sabtu (19/6) dalam kegiatan bertema Peluang dan Tantangan Pendidikan Islam di Era Distrupsi.

Menurutnya, dengan mengusai teknologi maka mahasantri bisa menjawab berbagai permasalahan masyarakat yang semakin berwarna-warni.

Ia menyontohkan, saat ini ada tokoh Muslim yang mau melakukan penelitian ke luar angkasa. Dari sini timbul pertanyaan, bagaimana shalat mereka, di mana arah kiblatnya? Permasalahannya seperti ini harus dijawab dengan pendekatan teknologi juga.

“Perkembangan teknologi saat ini sangat dahsyat sehingga manusia jangan sampai tergilas oleh pesatnya laju teknologi. Mahasantri harusnya menghiasi teknologi dengan konten positif,” ujarnya.

Sesuai tujuannya, hadirnya teknologi wajib menopang aktivitas manusia. Di era disrupsi, santri jangan melepaskan diri dari kemajuan zaman yang di dalamnya ada teknologi.

“Santri tidak hanya wajib paham kitab kuning, teknologi harus dikuasai pula. Kitab kuning hadirkan dalam teknologi,” imbuh Muhammad Ali.

Guru Besar di bidang Teknologi Informasi ini menambahkan, perdebatan antara peradaban dan teknologi, di dunia barat dan timur terus terjadi. Bagi ilmuwan Barat, temuan peralatan teknologi melahirkan peradaban baru. Namun, ilmuwan Timur berpendapat peradaban yang melahirkan teknologi.

“Tidak penting itu siapa yang benar, yang jelas santri yang menguasai teknologi, dialah santri yang menguasai peradaban,” terang Ramdhani.

Generasi yang hidup pada masa sekarang dan masa depan, seperti santri Ma’had Aly, memerlukan kepiawaian membaca masa depan dengan baik. Orang seperti inilah yang akan menjadi pemilik masa depan.

Penguasaan teknologi di satu sisi harus seimbang dengan dengan penguasaan pendidikan karakter. Menurut Ramdhani, pendidikan karakter santri harus menjadi penyeimbang dari derasnya arus teknologi yang terkadang tidak mendukung pembangunan karakter.

“Instrumen untuk transformasi-transformasi karakter budaya sikap dan sepenuhnya bisa dimainkan oleh guru melalui teknologi,” tegasnya. ¬† Kedatangan Muhammad Ali ke Tebuireng disambut oleh pengasuh Pondok Pesantren KH Abdul Hakim Mahfudz di Ndalem Kasepuhan.

Seusai Stadium General (SG), Muhammad Ali berziarah ke makam Hadratus Syaikh KH M Hasyim Asy’ari, KH Salahuddin Wahid, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan keluarga besar Tebuireng.

Kontributor: Syarif Abdurrahman

Editor: Kendi Setiawan

Sumber : NU Online

__Terbit pada
20 Juni 2021
__Kategori
Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *