tobat

MALAIKAT HAFADZAH JAGA ORANG TAUBAT

Saat ngaji kitab Sirojut Tolibin karya Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Jampes syarah Minjahul Abidin karya Imam Ghozali di rumah Abah H Sukardi, Sabtu (13/11/2021), Pengasuh PP Sunan Ampel Jombang, KH Taufiqurrahman Muchid menjelaskan keutamaan orang yang taubat.

“Malaikat hafadzah akan selalu menjaga orang yang bertaubat,” tuturnya.

Sebaliknya, orang yang enggan bertaubat akan ditinggal kan malaikat hafadzah. Sehingga orang itu gampang kena musibah.

Rasulullah Muhammad SAW pernah menuturkan kisah yang terjadi pada zaman Nabi Ibrahim alaihissalam.

Kala itu, ada seorang pendosa yang enggan bertaubat. Lelaki ini beranggapan, taubat tidak diperlukan. Sebab, dosa-dosanya sudah begitu besar. Ia merasa tak ada gunanya lagi bertaubat.

Hingga suatu hari, gempa bumi mengguncang kota tempat tinggalnya. Semua harta bendanya ludes. Rumahnya rata dengan tanah.

Hati kecil si pendosa ini bertanya-tanya, mungkinkah ini peringatan dari Tuhan agar ia segera bertaubat?

Lama ia merenung. Namun, ia tolak teguran hati kecilnya.

Ia lantas memboyong seluruh anak istrinya untuk mengungsi.

Sayang, musibah kembali menimpa. Perahunya tenggelam bersama seluruh isinya.

Tak ada yang tersisa kecuali sebuah panah, dirinya sendiri, dan seorang anak lelakinya yang masih kecil.

”Inikah peringatan Tuhan agar aku segera bertaubat?” pikirnya.

Namun, ia bunuh lagi pikiran itu. Ia pun pamit pada anaknya untuk mencari hewan buruan.

Seharian penuh berburu, ia tak mendapatkan mangsa.

Pada petang hari, ketika kembali, ia mendapati sesuatu bergerak-gerak di semak belukar. Segera ia melepaskan anak panah. Alangkah terkejut ketika ia mengetahui, sasarannya ternyata anaknya sendiri. Bocah itu tewas bersimbah darah.

“Inikah peringatan Tuhan agar aku segera bertaubat?” pikirnya lagi.

Setelah tak menggubris isi hatinya sendiri, ia meninggalkan jasad anaknya.

Ketika ia sedang beristirahat, tiba-tiba serombongan pasukan kerajaan melintas. Mereka mencari seorang pembunuh.

Begitu melihat dirinya memegang busur berlumuran darah, mereka pun menangkapnya karena mengira dialah si buronan. Dipotonglah kedua tangan dan kakinya.

Tragedi terakhir ini membuat ia yakin harus bertaubat. Dengan kedua kaki dan tangan yang buntung, ia menghadap Nabi Ibrahim alaihissalam. ”Wahai Nabi Ibrahim, jika sekarang saya bertaubat, masihkah Allah subhanahu wa ta’ala menerima pertaubatan saya?”

Nabi Ibrahim alaihissalam bingung, sampai Allah subhanahu wa ta’ala memberi wahyu. Sepanjang hidup orang itu, Allah subhanahu wa ta’ala selalu menyayanginya.

Berbagai tragedi yang menimpa dirinya adalah wujud kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala.

Harta bendanya diambil karena dia tidak pernah bersedekah.

Anak dan istrinya diambil karena mereka tak pernah dididik agama.

Tangan dan kakinya diambil karena selalu digunakan untuk maksiat.

Semua yang diambil Allah itu kini tengah menunggu, asalkan dia segera bertaubat.

”Katakan pada dia, Ibrahim, pintu taubat-Ku selalu terbuka untuknya, asalkan dia tidak terlambat,” kata Allah subhanahu wa ta’ala.

Karena jika nyawa sudah ditenggorokan alias nazak hendak mati, maka taubat tidak akan diterima.

Nabi Ibrahim alaihissalam menceritakan wahyu tersebut dan sang pendosa pun menangis mendengarnya.

Ia beristighfar dan bertaubat.
Tak lama kemudian ia mati di pangkuan Nabi Ibrahim alaihissalam.

Mugi Allah subhanahu wa ta’ala paring kita termasuk golongan orang-orang yang bertaubat..

__Terbit pada
22 November 2021
__Kategori
Amalan, hikmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *