Abah Guru Sekumpul (Foto: Instagram)

Meneladani Abah Guru Sekumpul, Membangun Kemandirian NU

Haul Abah Guru Sekumpul ke-15 telah selesai. Jutaan manusia hadir dari berbagai penjuru. Tidak hanya domestik, tapi juga mancanegara. Menariknya, meski perhelatan akbar ini menghabiskan milyaran rupiah, dari mulai jamuan, penginapan gratis, rest area dengan konsumsi gratis, hingga beberapa sarana transportasi dan juga layanan parkir, semuanya dipersembahkan tanpa adanya proposal permohonan dana bantuan, semata swadaya dari masyarakat yang tergerak hatinya untuk terlibat berkhidmat pada haul ulama yang mereka cintai tersebut.

Kemandirian yang berlangsung sejak haul pertama hingga ke lima belas ini tidak semata hasil kesepakatan, namun karena adanya wasiat sang guru besar; Abah Guru Sekumpul sebelum wafatnya, bahwa lebih baik tidak usah di-haul-i bila kelak dilaksanakan dengan cara meminta sumbangan.

Tidak hanya berkenaan haul, dalam perjalanan dakwahnya Abah Guru Sekumpul telah meneladankan bagaimana berdakwah dan membangun sarana tanpa meminta sumbangan. Bukan hanya dalam bentuk proposal, tapi kotak sumbangan untuk majelis saja tidak pernah beliau edarkan.

Bahkan, sebagaimana beliau sampaikan di pengajian, ketika membangun musholla Ar-Raudhah, tempat berlangsungnya pengajian dan ibadah yang sebesar masjid tersebut, ada pejabat pusat yang ingin menyumbang tidak beliau terima. Cukup dengan dana yang ada, meski ibu beliau –sebagaimana cerita beliau di pengajian- harus menjual perhiasannya demi majelis ilmu dan ibadah anaknya tersebut.

Sifat yang dalam bahasa agama disebut dengan qona’ah ini adalah “modal” utama Abah Guru Sekumpul. Tidak hanya meminta bantuan, mendekati pejabat dengan harapan bisa mendapatkan bantuan saja beliau hindari. Alih-alih mendekati, beliau malah yang selalu menjadi tujuan untuk didekati.

Dengan modal inilah, Abah Guru Sekumpul menjadi ulama yang independent dan mampu tegas dalam dakwahnya. Tidak sekali dua di pengajiannya beliau dengan tegas menyampaikan, “Bila kada suka mandangar pandirku, bulik…” (bila tidak suka dengan apa yang kusampaikan, silakan pulang).

Ini membuktikan, beliau tidak terikat dengan siapapun –selain Tuhan- bahkan tidak ada kepentingan harus dihadiri banyak orang di majelisnya. Ajaibnya, jamaah bukannya berkurang, malah senantiasa bertambah. Bahkan fasilitas majelisnya makin mewah.

Teladan KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (nama asli Abah Guru Sekumpul) yang pernah menjadi Mustasyar PBNU ini patut untuk kita perhatikan, sebagai pelajaran bagaimana bila ingin menjadi mandiri, independent, dan bernilai di mata umat. Tidak hanya perorangan tapi juga perkumpulan atau organisasi.

Sebuah organisasi, bila ingin mempunyai posisi tawar yang tinggi, harus mampu menjaga marwahnya dengan bersikap qonaah, tidak tamak dengan mengincar bantuan ataupun harapan agar dibantu dari pihak-pihak di luar organisasinya.

Sifat qonaah tidak identik dengan banyaknya punya dana dan sumber daya sendiri, tapi kemampuan mengelola dana yang ada dan memberdayakan sumber daya yang dimiliki, tanpa harus ketergantungan pihak lain. Meski minim, namun bila dimenej secara maksimal, akan membuahkan hasil yang maksimal.

Nahdlatul Ulama, sebagai organisasi raksasa yang -bila kita perkirakan berdasarkan survei LSI terbaru- mempunyai 108 juta warga, tentunya punya sumber daya yang sangat besar. Setidaknya, sumber daya manusia. Dengan angka ini, mestinya NU mampu menjadi organisasi yang mandiri, tidak berharap bantuan pihak luar untuk keberlangsungan program dan visi misinya. Pengurusnya harus memikirkan, bagaimana membangun kemandirian NU ini.

Dengan angka 108 juta, NU dan segenap perangkat organisasinya sejatinya tidak perlu menghiba uluran tangan pihak luar ketika ingin menghelat sebuah kegiatan. Bahkan, NU tidak perlu memuat nama orang yang notabene tidak berkhidmat kepada NU di jajaran kepengurusan hanya karena mengharapkan barangkali bisa diminta bantuan. NU tidak perlu “menjual diri”.

Sikap menadah uluran tangan, hanya akan membuat NU terhinakan, setidaknya terbeli oleh kepentingan orang yang mengulurkan tangannya.

Menyerahkan kepengurusan NU kepada orang yang tidak memahami ke-NU-an apalagi tidak memiliki loyalitas kepada NU, demi harapan bantuan hanya akan membuat NU menjadi organisasi murahan, yang dipakai bila diperlukan dan setelahnya tidak dipedulikan.

Siapapun yang menjadi pengurus NU di tingkat mana pun, layak memperhatikan hal ini. Demi menjaga marwah organisasi warisan para auliya dan ulama ini, perlu membangun kemandirian NU.

Bahwa NU adalah organisasi yang menjadi wadah bangkitnya ulama, harus tetap setia pada asasnya. Kepentingan NU adalah keberlangsungan Aswaja dan NKRI, berpihak pada ulama dan umat, jangan sampai terbeli oleh atau tergadai pada kepentingan politikus, oligarki dan kapitalis.

Sebagai penutup, di hari lahir yang ke-97 ini, penulis mengucapkan selamat milad sembari merenungkan nasehat Muassis Dangdut, Haji Raden Oma Irama dalam sebuah syairnya, “Lebih Baik Jalan Kaki, Tapi Punya Harga Diri, Daripada Bersedan, Tanpa Kehormatan”

Allahumma Ayqizh Quluubal Ulama wal Muslimiina min Nawmi Ghaflatihim Al-‘Amiiq.

Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thoriiq.

Oleh:
Khairullah Zain
Wakil Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Banjar, Founder AMANNA Community

Artikel pertama kali dipublikasikan di
https://banua.co/2020/03/11/meneladani-abah-guru-sekumpul-membangun-kemandirian-nu/

__Terbit pada
14 September 2021
__Kategori
hikmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *