ingkung

MULUDAN KRUPUK Vs MANAKIBAN INGKUNG

Saat ngaji kitab Sirojut Tolibin karya Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Jampes, syarah Minjahul Abidin karya Imam Ghozali, Rabu (3/11/2021), Pengasuh PP Sunan Ampel Jombang, KH Taufiqurrahman Muchid, sempat menjelaskan karomah para wali. “Karomah para wali itu adalah bagian dari mukjizat Rasulullah Muhammad sollallahu alaihi wa sallam,” tuturnya.

Para wali itu bisa menjadi wali karena stempel dari Nabi Muhammad sollallahu alaihi wa sallam. “Para wali pasti pernah ketemu Nabi,” tuturnya. Baik dalam mimpi maupun terjaga.

Konon, Kiai Hamid Pasuruan yang terkenal wali, sejak kecil sudah di temui Rasulullah Muhammad sollallahu alaihi wa sallam.

Malah ada yang menceritakan, di pundak Syekh Abdul Qodir Al Jilani ada bekas kaki Nabi Muhammad sollallahu alaihi wa sallam.

Inilah sebabnya, kita harus lebih mengutamakan peringatan Maulid Nabi Muhammad sollallahu alaihi wa sallam. Jangan sampai muludan kalah dengan manakiban. “Mosok muludan krupuk, manakiban ingkung. Padahal sing ono Qur’ane iku muludan. Ngunu yo ngunu, tapi yo ojo ngunu,” tuturnya.

Saya jadi teringat kisah yang pernah disampaikan almarhum Kiai Wahid, Katerban, Pulorejo, Ngoro, Jombang.

Ada orang kaya yang setiap tahun adakan muludan nyembelih sapi.

Suatu ketika dia diuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Tahun itu ekonomi nya turun. Namun dia tetap bikin muludan nyembelih kambing.

Tahun depannya, ekonomi nya turun lagi. Namun dia tetap bikin muludan nyembelih ayam.

Tahun depan nya, ekonomi nya makin turun. Sehingga dia tak punya apa-apa lagi untuk adakan muludan.

Suami istri itu akhirnya musyawarah, gimana cara nya agar tetap dapat mengadakan muludan.

Mereka pun sepakat untuk menggadaikan salah satu anaknya.

Uang hasil menggadaikan anak nya itu lantas dipakai bikin muludan.

Malam itu dia mengundang para tetangga untuk muludan di rumah nya. Namun tak ada satupun tetangga yang datang.

Para tetangga nya lebih memilih menghadiri muludan di rumah orang kaya.

Bingung siapa yang akan murak tumpeng nya, orang ini lantas keluar desa. Nang prapatan atau pertelon untuk mencari orang yang lewat untuk diajak muludan ke rumah nya.

Akhirnya dia ketemu rombongan sejumlah orang memakai pakaian putih-putih. Satu diantara mereka terlihat gagah, berwibawa dan bercahaya.

Rombongan ini lantas diundang ke rumah nya. Alhamdulillah mereka mau.

Tiba di rumah, mereka pun membaca salawatan seperti biasa.

Setelah acara selesai, mereka langsung pamit pergi. Tak ada satupun yang mau murak tumpengnya.

Anggota rombongan yang paling keri pesan; Semua isi tumpeng itu gunakanlah untuk kebutuhan keluarga. Termasuk untuk menebus anak yang digadaikan..

Si tuan rumah lantas bertanya; Siapakah kalian ini? Anggota rombongan yang keri tadi menjawab; Yang paling bercahaya tadi adalah Rasulullah Muhammad sollallahu alaihi wa sallam. Sedangkan rombongan yang mengiringi adalah para malaikat.

Orang itu lantas sujud syukur. Bahagia acara muludan nya dirawuhi Rasulullah Muhammad sollallahu alaihi wa sallam dan para malaikat.

Dia lantas membuka satu per satu tumpengnya. Ternyata semua isinya berubah jadi emas.

Dia pun balik jadi kaya dan bisa menebus anaknya..

Mugi Allah subhanahu wa ta’ala paring kita bisa istiqamah adakan muludan..

Masio tidak di bulan mulud, di bulan bakda mulud juga gpp..

__Terbit pada
5 November 2021
__Kategori
Amalan, Fiqih, hikmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *