mayit

NIYAHAH

Saat ngaji dalam Lailatul Ijtima Ranting NU Candimulyo edisi 158 di Musala Baiturrohman, Nglundo Utara, Kamis (24/12/2020), Wakil Rois Syuriyah PCNU Jombang, KH Muhammad Soleh, menjelaskan larangan niyahah alias meratapi mayit dengan nangis jerit-jerit. Juga larangan meratapi mayit dengan napuki wajah, cabuti atau metali rambut serta guntingi baju.

“Nangis mbrebes mili karena ditinggal mati itu biasa, hukum nya boleh. Yang haram itu meratapi mayit sampai jerit-jerit, mukuli wajah, cabuti rambut dan nyobeki baju,” tuturnya.

Sebab hal itu menunjukkan tidak rida pada takdir Allah. Rasulullah Muhammad sollallahu alaihi wa sallam berlepas diri dari orang-orang yang melakukan niyahah.

“Mayit di dalam kubur akan disiksa karena ratapan keluarga nya,” jelas nya.

Kiai Soleh lalu menceritakan Soleh Almuri yang ada di kitab Irsyadul Ibad. Suatu ketika dia tidur di kuburan pada malam Jumat.

Dia lantas melihat para ahli kubur keluar menyambut kiriman doa, bacaan Quran dan sedekah yang dikirimkan keluarganya.

Namun diantara para ahli kubur itu ada seorang pemuda yang tidak dapat kiriman. Bahkan dia disiksa dalam kubur nya.

Soleh Almuri lalu bertanya pada pemuda itu. Kenapa dia disiksa?
Si pemuda cerita, keluarganya sedih dengan kematian nya. Lalu mengumpulkan orang-orang diajak meratap bersama..

Oh, ternyata sejak dulu orang suka berkumpul meratapi kematian..
Maka para wali mendesain agar kumpulan pasca kematian itu jadi ajang positif. Makanya diisi tahlilan.

Benar lah kata Imam Syafi’i. Nafsu itu jika tak disibukkan dengan kebaikan, maka akan menyibukan kita dengan kejelekan..

Anak muda maupun tua yang tidak disibukkan dengan ngaji, salawatan, latihan pidato, latihan qiroah, latihan pencak, kursus bahasa dan ketrampilan lainnya, maka pasti akan sibuk dengan aktivitas negatif..

Kembali ke pengalaman Soleh Almuri. Si pemuda yang disiksa di kubur lalu minta tolong padanya. Agar mengabari keluarga nya bahwa dia disiksa gara-gara orang tua nya mengumpulkan orang-orang diajak meratap bersama. Si pemuda juga memberi tahu alamat orang tuanya kepada Soleh Almuri.

Esoknya, Soleh Almuri mendatangi alamat yang disampaikan si pemuda. Beliau menyampaikan pesan si pemuda kepada orangtuanya. Mendengar cerita Soleh Almuri, orang tua nya pun akhirnya menghentikan majelis ratapan.

Mereka juga memberikan sejumlah uang kepada Soleh Almuri untuk disedekahkan buat si anak.

Kamis depannya, Soleh Almuri kembali tidur di kuburan itu. Dan kembali ketemu si pemuda di dalam kubur. Kali ini, dia sudah tidak lagi disiksa. Bahkan ganti menerima nikmat karena doa dan sedekah keluarga nya.

Kiai Soleh cerita, nangis ketika ada keluarga meninggal itu wajar. Rasulullah Muhammad sollallahu alaihi wa sallam ketika putra nya yang bernama Ibrahim wafat, juga nangis mbrebes mili. Namun tidak sampai muncul suara dari lisannya. Rasulullah menyatakan, itu adalah tangisan kasih sayang.

Walaupun menangis, kita harus rida dengan apapun takdir Pengeran.
Dalam Uqudullujjain malah disebutkan, istri yang mati dalam kondisi tidak diridai suaminya, akan disiksa dalam kubur.

Makanya Kiai Jamal Tambakberas ketika ditinggal wafat istrinya, beliau sempat turun ke liang lahat dan mengucapkan. Ya Allah kulo rida, ya Allah kulo rida, ya Allah kulo rida..

Dengan selalu rida, hilang sesek nang dodo. Dan kita pasti akan merasakan surgo dunyo..

Mugi Allah paring semua umat Rasulullah Muhammad sollallahu alaihi wa sallam termasuk golongan yang rida pada Allah dan diridai Allah subhanahu wa ta’ala

__Terbit pada
1 Februari 2021
__Kategori
hikmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *