Sen. Mei 16th, 2022
Gus-Qoyyum. Duta.co
1. Kecerdasan/IQ. Ini melekat pada pribadi para santri yang memang sudah cerdas sejak bayi. Tinggal dipoles. Jadi.
2. Sebab kesolehan orangtua. Ada beberapa orang yang menjadi ulama lantaran tirakat orangtuanya. Ayah ibunya bukan orang berilmu, tapi ahli ibadah. Dan lantaran itu Allah menjadikan anaknya seorang ulama.
3. Riyadlah. Usaha keras seorang santri dalam menjalani lelaku mencari ilmu. Hambatan diatasi, tantangan diselesaikan, dan pembelajaran dilaksanakan dengan tekun.
4. Mushohabah alias bergaul, membersamai dan mendampingi keseharian guru. Dari situ, seorang murid akan bisa merasakan sentuhan emosional, intelektual, dan spiritual dari gurunya. Juga bisa melihat karakteristik gurunya dari dekat secara manusiawi, serta bisa belajar bagaimana gurunya melayani umat, mengajar, beribadah, bahkan berumahtangga.
Beberapa abdi ndalem, yang menjadi juru laden kiainya, lebih mudah futuh lantaran mushohabah, dibandingkan dengan sosok yang menyibukkan diri dalam tugas akademik dan berkutat pada teks. Itu lantaran interaksi keseharian dengan gurunya membuat dirinya hadir dalam konteks, bukan teks saja.
Dalam beberapa kejadian, keempat faktor di atas bisa melekat pada satu sosok. Cerdas, punya orangtua saleh, tekun belajar, dan dengan rendah hati membersamai gurunya. (Sumber: alanu)
Baca Juga  DUA KEUNTUNGAN TOBAT

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.