Ijtihad-adalah

Perbedaan ijtihad Imam Syafi’i dan Imam Nawawi

Imam syafi’i merupakan mujtahid mutlaq sekaligus pendiri Mazhab Syafi’i.

Sedangkan Imam Nawawi adalah seorang ulama besar yang bermazhab Syafi’i sekaligus ulama yang memfilter mazhab (Muharrir Mazhab).

Walaupun beliau seorang pengikut Mazhab Syafi’i, namun ada beberapa ijtihad beliau yang menyelisihi Ijtihadnya sang pendiri mazhab. Kendatipun demikian, hal tersebut tidaklah mengeluarkan beliau dari barisan pengikut Imam Syafi’i.

Hukum Menggunakan Air Musyammas

Sebelum saya menyebutkan perbedaaan ijtihad antara Imam Syafi’i dengan Imam Nawawi dalam masalah ini, alangkah baiknya saya menjelaskan terlebih dahulu apa itu air musyammas.

Air Musyammas adalah air yang dipanaskan oleh sengatan matahari.

Para ulama telah menjelaskan beberapa syarat air musyammas :

✔️Air itu terletak di daerah yang panas seperti timur tengah. Sedangkan daerah tropis seperti Indonesia, itu tidak termasuk katagori air musyammas.

✔️Air tersebut dipanaskan didalam wadah yang terbuat dari selain emas dan perak, seperti: besi dan kuningan. Sedangkan air yang berada dalam danau, waduk, kolam, dan lain-lain, itu tidak termasuk air musyammas.

Ulama sepakat atas kesucian air musyammas dan sah bersuci dengan mengunakan air tersebut.

Mereka juga sepakat bahwa tidak makruh mengunakan air musyammas pada selain badan, seperti mencuci baju, wadah dan menyiram tanaman.

Mereka berselisih pendapat mengenai hukum menggunakannya pada badan, seperti wudhu dan mandi.

⏩ Imam Syafi’i berpendapat bahwa makruh menggunakan air musyammas untuk berwudhu dan mandi karena dapat menyebabkan penyakit Barash (kusta).

Berdasarkan hadist aisyah r.a,

عن عائشة رضي الله عنها قالت : وقد أسخــنت ماء في الشمس, فقال النبي { لا تفعلي يا حميراء ؛ فإنه يورث البرص } [رواه البيهقي]
“Dari Aisyah r.a ia berkata: saya memanaskan air dengan sinar matahari, kemudian Rasullah saw bersabda: jangan engkau lakukan itu wahai Humaira (pipi yang kemerah-merahan) karena hal itu dapat menyababkan penyakit Barash (kusta).” [HR. Baihaqi]

⏩ Imam Nawawi berpendapat bahwa tidak ada kemakruhan dalam mengunakan air musyammas baik untuk berwudhu ataupun untuk mandi karena hadist yang digunakan oleh Imam Syafi’i adalah hadist dhaif menurut kesepakatan ulama hadist.
Adapun pernyataan bahwa mengunakan air yang dipanaskan dengan cahaya matahari dapat menyababkan penyakit kusta, hal tersebut sama sekali tidak dapat dibuktikan berdasarkan ilmu kedokteran. Oleh karena itu, hukum mengunakan air musyammas kembali kepada prinsip asal yaitu tidak ada kemakruhan. (Ikhtiyarat nawawi Fil majmu’ al-Mukhalafah lilmazhab, Ali Muhammad Audah, hal. 40)

Muhibbin Ngobar Ngabar (Group WAG Ngaji Kitab)

__Terbit pada
15 Agustus 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *