syahadat anak kecil

Perlukah Anak Kecil Mengulang Syahadat ketika Baligh?

Menyucapkan dua kalimat syahadat di depan saksi, hanya berlaku bagi mereka yang hendak masuk islam

bagi mereka yang telah masuk islam, tidak ada kewajiban untuk menyatakan syahadat di depan saksi atau di depan pemimpin. Diantara dalil yang menunjukkan hal itu,

Pertama, bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhasil menaklukkan kota Mekah, banyak masyarakat di hamparan jazirah arab yang masuk islam secara berbondong-bondong. Satu suku semua masuk islam, diwakili oleh pernyataan kepala suku. Allah sebutkan dalam al-Quran,

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan ( ) dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong (QS. an-Nashr: 1-2)

Itu terjadi sekitar tahun 9 dan 10 H. Sehingga tahun itu digelari ‘am al-Wufud (tahun kedatangan tamu).

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan haji wada di akhir tahun 10 H, jumlah kaum muslimin yang ikut haji sangat banyak, lebih dari seratus orang.

Sehingga tidak semua orang yang masuk islam, mengikrarkan syahadat di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan banyak diantara mereka yang belum akrab dengan Nabi, dan beliau mengakui keislaman mereka.

Kedua,  ada beberapa sahabat yang lahir di tengah kaum muslimin. Seperti Abdullah bin Zubair, lahir ketika ibunya ikut hijrah ke Madinah. Dan kita tidak mendapatkan adanya riwayat, mereka mengikrarkan dua kalimat syahadat setelah mereka besar.

Karena mereka sudah islam sejak kecil, sehingga mereka tidak butuh mengikrarkan syahadat di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Anak Kecil Mengikuti Agama Orang Tuanya

Ulama sepakat bahwa anak kecil yang dilahirkan di tengah orang tua yang keduanya muslim, maka agamanya langsung mengikuti orang tuanya. Jika agama ortunya berbeda, maka agamanya mengikuti orang tuanya yang muslim.

Syaikhul Islam mengatakan :

nak kecil yang kedua orang tuanya muslim, maka dia muslim mengikuti kedua orang tuanya, dengan sepakat kaum muslimin.

Demikian pula ketika ibunya muslimah (sementara ayahnya kafir), dia mengikuti agama ibunya menurut pendapat mayoritas ulama seperti Abu Hanifah, as-Syafii, dan Ahmad. (Majmu’ Fatawa, 10/437).

Ulama sepakat bahwa jika ada bapak yang masuk islam dan dia memiliki beberapa anak yang masih kecil atau keluarga yang seperti anak kecil – seperti orang gila – maka mereka dihukumi telah islam mengikuti ayahnya. Sementara mayoritas ulama (Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hambali) berpendapat bahwa yang menjadi acuan islamnya anak adalah status islamnya salah satu dari orang tuanya. Baik ayahnya maupun ibunya. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 4/270).

Anak Kecil Tidak Perlu Mengulang Syahadat

Anak kecil dari keluarga muslim, tidak perlu mengulang syahadatnya ketika baligh, karena mereka sudah muslim sejak kecil.

Syaikhul Islam mengatakan,

Kaum muslimin sepakat bahwa anak kecil ketika menginjak baligh sudah muslim, dia tidak wajib memperbarui syahadatnya setelah baligh. (Dar’u at-Ta’arudh, 4/107)

Beliau juga mengatakan,

Ulama salaf dan para ulama setelahnya sepakat bahwa perintah pertama yang ditujukan kepada para hamba adalah dua kalimat syahadat. Mereka juga sepakat bahwa siapa yang sudah bersyahadat sebelum baligh, dia tidak diperintahkan untuk mengulang syahadatnya setelah baligh. (Dar’u at-Ta’arudh, 4/107)

Jika Murtad Setelah Baligh

Sebelum baligh, status agama anak mengikuti agama orang tuanya. Dan jika dia murtad setelah baligh atau ragu dengan islamnya, maka dia wajib bertaubat dengan mengulangi syahadatnya.

Syaikhul Islam mengatakan,

Anak kecil, hukumnya di dunia sama dengan hukum orang tuanya. Karena dia tidak berdiri sendiri. Jika dia baligh, kemudian memilih islam atau kakfiran, maka hukumnya kembali kepada pilihannya dengan sepakat kaum muslimin. Jika kedua orang tuanya yahudi atau nasrani, kemudian si anak masuk islam, maka dia menjadi muslim, dengan sepakat kaum muslimin. Sebaliknya, jika kedua orang tuanya muslim, kemudian anaknya memilih kafir setelah baligh, maka dia kafir dengan sepakat kaum muslimin. (al-Fatawa al-Kubro,1/170). (KonsultasiSyariah, NUOnline)

__Terbit pada
27 Maret 2021
__Kategori
Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *