kewajibab-istri

PUASA SUNAT, ISTRI HARUS IZIN SUAMI

Saat ngaji dalam Lailatul Ijtima Ranting NU Candimulyo edisi 187 di Musala Assalam Perum Grand Candi Village, Kamis (4/11/2021), Wakil Rois Syuriyah PCNU Jombang, KH Muhammad Soleh, menjelaskan keutamaan puasa.

“Rasulullah Muhammad sollallahu alaihi wa sallam bersabda; Orang yang berpuasa ketika berbuka didoakan oleh malaikat,” tuturnya. Yakni didoakan agar berkah dan dosa-dosanya diampuni.

Ini berlaku tidak hanya pada puasa Ramadan. Melainkan juga pada puasa sunah.

Maka kalau kita ingin banyak didoakan malaikat, maka kita harus banyak berpuasa.

Inilah sebabnya, Allah banyak memberikan terapi puasa.

Orang yang melanggar sumpah, diharuskan puasa tiga hari.

Orang yang menyamakan istri nya dengan ibunya (zihar) harus terapi puasa dua bulan berturut-turut.

Orang yang berhubungan suami istri pada siang hari Ramadan, harus puasa dua bulan berturut-turut.

Orang yang tidak mengerjakan wajib haji harus puasa 10 hari.

Semakin banyak puasa, maka kita semakin banyak didoakan malaikat.

Namun bagi istri, kalau ingin puasa sunah, harus seizin suaminya. “Kalau suami di rumah, istri jangan posa-poso. Kalau mau puasa sunah, istri izin suaminya dulu,” terang nya.

Kiai Soleh lalu mencontohkan izinnya istri pada suami. “Mas, pean hari ini butuh sama aku apa ndak? Klo ndak butuh, saya mau puasa sunah.”

Inti nya jangan sampai, ketika suami wis kadung jamu, ndadak istrinya puasa. Akhirnya si suami gelibekan dewe.

Di Radar Surabaya pernah ada cerita. Pasangan suami istri tinggal di Surabaya. Si istri kerja nya di Mojokerto. Jarak rumah ke tempat kerja cukup jauh.

Suatu kali, si suami wis kadung jamu. Begitu tegangan tinggi, si istri gak bisa melayani karena harus pergi kerja.

Akhirnya si suami nemui pembantu nya yang sudah tua. “Mbok darurat, Mbok!”

Karena dengar kata darurat, si mbok pun mau. Tapi harus bayar Rp 100 ribu dan pakai body lotion.

Hal itu terjadi beberapa kali. Sehingga akhirnya si istri tahu dan menggugat cerai di pengadilan agama.

Ketika dihadirkan di pengadilan agama, si suami jujur mengakui. Penyebabnya karena kadung jamu, tapi tak ada pelampiasan karena si istri kadung berangkat kerja.

Si Mbok dihadapan hakim juga jujur mengakui. Mau meladeni bosnya karena si bos bilang “darurat.”

Akhirnya hakim tidak mengabulkan pasangan itu cerai.

Hakim malah menasehati si istri agar tidak menyia-nyiakan ketika suami sudah kadung jamu.

Ketika keluar dari pengadilan, si istri dengan sewot ngomel ke pembantunya. “Si Mbok ini pakai bilang darurat-darurat segala.”

Hal semacam diatas, pasti tidak akan terjadi bila si istri ikut IPPNU, Fatayat NU maupun Muslimat NU.

Karena di NU, seperti diterangkan Kiai Soleh, jangankan untuk pergi kerja, untuk puasa sunah sekalipun, istri harus dapat izin suami..

Sehingga tidak sampai terjadi darurat-darurat..

Mugi Allah subhanahu wa ta’ala paring kita bisa memperbanyak puasa..

__Terbit pada
12 November 2021
__Kategori
Fiqih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *