Rais ‘Aam PBNU Ijazahkan Amalan untuk Hilangkan Sulitnya Rezeki Saat Pandemi

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), K.H. Miftakhul Akhyar menyampaikan bahwa suatu peradaban bisa hancur karena sebuah kesalahan yang berakibat fatal. Sebagaimana Al Qur’an menceritakan kisah kaum Ad, kaum Samud, dan Fir’aun yang termaktub dalam Surah al-Fajr ayat 6-14. Mereka membangun gedung-gedung tinggi, memotong batu-batu besar di lembah, berbuat sewenang-wenang dan berbuat kerusakan di negeri sendiri. Hal ini disampaikan beliau dalam sesi khutbah Iftitah pada acara Tahlil Muassis dan Doa Keselamatan Bangsa dalam rangka Harlah ke-98 NU, (27/2).

“Mereka-mereka yang disebut dalam surat al-Fajr adalah orang-orang besar, negara besar, bangsa-bangsa yang besar yang kuat, kokoh belum ada menandinginya,” tutur Kiai Miftah.

Allah lantas menimpakan cemeti azab kepada mereka karena perbuatan yang mereka perbuat telah mendatangkan murka Allah, sebab Allah selalu mengawasi hamba-Nya.

“Dzolim inilah sumber kegagalan, sumber kehancuran,” imbuh Kiai Miftah.

Diceritakan oleh Kiai Miftah, Imam Ghazali mengatakan dalam kitab At-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk, bahwa dunia bukan negara. Kaum Majusi yang menyembah api pernah menguasai dunia tidak kurang dari 4000 tahun. Turun-temurun diakhiri pada kaisar Amsyirwan yang di saat meninggalnya, Rasulullah SAW mengungkapkan bela sungkawa meskipun ia seorang kafir, Aku ungkapkan bela sungkawa kepada empat orang kafir, Amsyirwan karena adil dan jujurnya menjauhi kedzoliman.

Kemudian Imru’ Al-Qais yang syair-syairnya berisi keimanan dan ketauhidan, Hatim Ath-Tha’i, seorang dermawan di zaman jahiliyah, dan putranya bernama Adli bin Hatim. Mereka meninggal dalam keadaan belum sempat masuk islam, dan Rasulullah mengungkapkan bela sungkawa.

Empat perkara yang perlu diperhatikan dalam surah al-Fajr di atas meliputi: kezaliman adalah pangkal kehancuran, sewenang-wenang, al-fasad (kerusakan), dan kesombongan.

“Merusak ini bukan menghancurkan bangunan, tapi mengisi kemaksiatan, memperbanyak kedurhakaan, kemungkaran, dan sebagainya,” ucap Kiai Miftah menjelaskan.

Sebagaimana keputusan muktamar adalah harlah pada tahun hijriyah. Peringatan Harlah NU adalah sebuah momentum besar.

“Semoga NU makin lama makin jaya, makin sehat, makin besar, makin perkasa, makin berwibawa,” doa Kiai Miftah.

Menghadapi pandemi Covid-19 yang mana saudara-saudara kita mengalami kesulitan ekonomi, Kiai Miftah yang juga sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan ijazah kepada jamaah dan seluruh warga Nahdliyyin.

Adapun ijazah yang diberikan yakni membaca la haula wa la quwwata illa billah sebanyak 100 kali setiap hari, insyaallah kefakiran tidak akan menghampiri. Selain bacaan tersebut, Kiai Miftah menganjurkan untuk membaca Ya Lathifu.

“Saya ijazahkan pada sampean sebagai tambahan membacanya Ya lathifu, fa nya di dhommah. Karena rahasianya di dhomahnya fa ini,” jelasnya

Beliau mengijazahkan untuk membaca Ya Latifu sebanyak 129 kali seusai solat Maghrib dan pada saat keadaan genting.

“Ini kalo bisa dibaca setiap ba’da maghrib 129 kali. Kalau mengalami saat-saat genting bisa dikalikan 129 kali dikalikan 129 kali. Kalau dibaca sekitar dua jam lah, insyaallah akan hasil maksudnya,” ucapnya.

“Semoga harlah ini menjadikan sebuah nilai tambah dalam kehidupan kita, kedisiplinan kita, NU menjadi organisaasi yang penuh dengan kedisiplinan li dhomiyahnya min lidhomiyahnya. Juga selalu pro aktif apa yang terjadi tengah masyarakat mampu membaca mendeteksi detak jantung umat apa kebutuhan mereka saat ini,” doa Kiai Miftah menutup.

Sumber : NU Online

__Terbit pada
3 Maret 2021
__Kategori
Amalan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *