Sen. Agu 8th, 2022
Hiburan

Saat ngaji tafsir Jalalain di Masjid Pesantren Tebuireng Rabu (24/11/2021) bakda Isya, Dr KH Ahmad Mustain Syafi’ie Alhafid, menjelaskan pentingnya rekreasi alias jalan-jalan.

Sebagaimana disebutkan dalam ayat diatas, jalan-jalan itu perlu kita lakukan untuk mengambil pelajaran. Agar tidak mengulangi kesalahan umat-umat terdahulu.

“Contoh nya yang ada di Pompeii Italia,” tuturnya.

Pompeii dulunya penuh kemaksiatan. Di dindingnya banyak relief berbentuk alat kelamin dan posisi bercinta. Pelacuran merajalela disitu.

Pada tahun 76 Masehi, kampung itu kena abu panas nya letusan gunung Vesuvius.

Sebanyak 1.150 orang jadi batu. Terkubur sedalam 30 meter.

Manusia kan dari tanah. Begitu kena abu panas, akhirnya membatu.

Pompeii yang terkubur akhirnya ditemukan 16 abad kemudian.

Pada tahun 1.700 an, kampung Pompeii yang terkubur tanah ditemukan lalu digali.

Disitu ditemukan kerangka manusia yang membatu. Banyak yang dalam posisi bercinta.

Diprediksi, itu dulu tempat pelacuran.

Di Indonesia juga ada yang seperti itu.

Namanya kampung lembah Legetang di dekat gunung Pengamun-amun Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah.

Kampung lembah Legetang dulu nya sering dipakai maksiat. Setiap malam banyak warga luar daerah yang datang kesitu. Untuk minum-minum dan zina.

Pada suatu malam tahun 1955, puncak gunung Pengamun-amun seperti dipotong. Kemudian terbang sejauh satu kilometer. Ngebleki kampung Legetang.

Legetang yang mulanya lembah, akhirnya langsung jadi bukit.

Warga kampung yang keblekan sampai sekarang tidak pernah ditemukan.

Jumlahnya ada 351 orang. Rincian nya, 332 warga Legetang. Dan 19 tamu dari luar Legetang.

Mugi Allah subhanahu wa ta’ala paring kampung kita tidak seperti Pompeii dan Legetang.

Setiap tempat pasti punya masa lalu. Dan jika kita bisa memetik pelajarannya, pasti akan meningkatkan iman dan takwa.

Baca Juga  Meneladani Abah Guru Sekumpul, Membangun Kemandirian NU

Inilah sebabnya, Gus Haris, ketua MWC NU Perak, pas acara pelatihan publik speaking PC GP Ansor Jombang, berpesan. “Kalau sampeyan MC, ceramah atau lapo ae, ojo lali kirim Fatihah nang sing mbabat kampung kunu,” sarannya.

Karena Gus Haris pernah nemui, ada orang wis kadung nyekel mik. Dadak gak iso muni. Goro-goronya tidak kirim Fatihah nang sing mbabat kampung..

Mugi Allah subhanahu wa ta’ala paring kita saget ngelampahi

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.