Relasi Suami Istri Harus Saling Memanusiakan

Jakarta, NU Online

Beberapa waktu lalu jagad media ramai dengan pemberitaan oknum penceramah kondang yang diduga menghina dan merendahkan istrinya.

Merespons hal itu, aktivis Gusdurian Ciputat, Ade Pradiansyah menyebut relasi istri dan suami seharusnya saling memanusiakan satu sama lain.

Ade Pradiansyah menerangkan dalam fiqih disebutkan terkait dhihar atau menyerupakan istri dengan kerabat suami dalam tradisi masyarakat Arab klasik, hal itu merupakan bentuk pelecehan serta menyakiti hati dan perasaan istri.

“Hukum ini kronologisnya diabadikan dalam QS. Mujadalah ayat 1-4 sehingga dalam fikih klasik, bagi suami yang melakukan dhihar dikenai hukuman untuk memerdekakan budak atau berpuasa memberi makan orang fakir miskin,” kata Ade, sapaan akrabnya yang juga aktif di LBM NU Jakarta saat dihubungi NU Online, Selasa (15/6) sore.

Alumnus Pondok Pesantren Lirboyo itu menceritakan kisah lain Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang berencana untuk poligami namun niat tersebut justru sampai kepada istrinya, Sayyidah Fatimah Zahro, putri Rasulullah SAW.

“Saat itu sayyidah Fatimah merespon dengan wajah yang tidak menyenangkan. Kemudian sayyidina Ali meminta pendapat kepada Rasulullah SAW mendengar hal itu respon Rasulullah sama dengan putrinya bahkan dengan menggunakan otoritas Rasulullah menyampaikan ‘barang siapa yang menyakiti darah dagingku maka sama seperti menyakitiku,” terangnya.

Ia menyayangkan semangat yang dibangun dari kedua hukum Islam tersebut tidak dijadikan perspektif pengetahuan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Saat ini yang terjadi justru wacana-wacana tentang hak laki-laki tanpa diimbangi dengan kewajiban kepada wanita.

“Ini yang jadi sebab nasib perempuan sampai saat ini masih terkatung-katung di bawah bayang-bayang kekuasaan laki-laki,” imbuhnya.

Ia berpesan agar setiap pasangan dalam berkeluarga jangan hanya menuntut hak tapi tunaikan juga kewajiban. Saling menghargai dan memahami, hindari saling merendahkan dan memenuhi egoisme pribadi.

Pembelaan Islam terhadap perempuan

Ade menjelaskan sejarah mencatat perempuan pada masa pra-Islam diperlakukan sangat tidak manusiawi namun dengan datangnya Islam, perempuan diangkat derajatnya sama dengan laki-laki sebagai manusia.

Ade mengilustrasikan perempuan di zaman Pra Islam yang tidak mendapatkan harta waris namun saat Islam datang mulai diberlakukan hukum perempuan berhak mendapat warisan.

“Hal ini menunjukkan pembelaan Islam kepada perempuan bagian dari semangat kemanusiaan,” tegasnya.

Kontributor: Suci Amaliyah

Editor: Kendi Setiawan

Sumber : NU Online

__Terbit pada
16 Juni 2021
__Kategori
Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *