wanita

RINGKASAN DARAH WANITA

Permasalahan haid selalu bersentuhan dengan rutinitas ibadah setiap hari, maka seorang wanita dituntut untuk mengetahui hukum – hukum permasalahan yang dialaminya, agar ibadah yang dilakukan syah dan benar menurut syar’i. Tersebut dalam Hadits Nabi saw.

Artinaya: Aisyah berkata ”Ketika saya melakukan ibadah haji, ditengah perjalanan saya haidh dan saya menangis ketika itu Nabi bertanya “Apa kamu haidh ? “Dijawab:Ya, kemudian. Nabi bersabda : Ini (haid) merupakan sesuatu yang telah ditakdirkan Allah kepada cucu-cucu wanita Adam (HR.Bukhori Muslim )

Haid merupakan kodrat wanita yang tidak bisa dihindari . Menurut syar’i haid adalah darah yang keluar dari alat kelamin wanita yang telah berusia 9 tahun, bukan karena sakit atau melahirkan .

Adapun darah yang keluar karena sakit dinamakan darah Istihadhah, sedang yang keluar setelah melahirkan dinamakan darah nifas

Darah Haidh.
Darah yang keluar dihukumi haid apabila memenuhi empat syarat sebagai berikut :

  1. Keluar dari wanita dengan usia minimal 9 tahun kurang 16 hari
  2. Darah yang keluar minimal satu hari satu malam .
  3. Tidak lebih dari 15 hari 15 malam .
  4. Keluar setelah masa minimal suci, yaitu 15 hari dari haid sebelumnya

Adapun warna, sifat, kuat dan lemahnya darah tidak menjadi acuan dalam penentuan hukum darah haid, sebab pembahasan kuat dan lemahnya darah hanya untuk menentukan darah wanita tatkala mengalami Istihadhah. Dengan demikian meskipun warna, sifat darah berubah – ubah, kalau masih dalam batasan hari haid, maka tetap dihukumi haid .

Darah Nifas.
Darah yang keluar dihukumi nifas apa bila memenuhi tiga syarat sebagai berikut :

  1. Keluar setelah melahirkan
  2. Darah yang keluar tidak ada batas minimal
  3. Tidak lebih dari 60 hari 60 malam

Darah Istihadhoh.
Istihadhoh menurut syar’i diartikan sebagai darah penyakit yang keluar dari alat kelamin wanita yang tidak sesuai dengan batas ketentuan haid dan nifas .
Oleh karena itu wanita yang sedang Istihadhah tetap wajib sholat, puasa Ramadhan dan boleh membaca Qur’an dll . Kemudian karena hadast dan najisnya terus keluar maka jika akan melakukan sholat harus memenuhi 4 perkara terlebih dahulu, yaitu :

  1. Membalut alat kelamin .
  2. Menyumbat dengan kapas atau yang serupa, supaya tidak menetes keluar
  3. Membalut dengan celana dalam .
  4. Bersuci dengan wudhu atau tayamum .
    Empat perkara tersebut harus dilakukan untuk menjaga kehormatan sholat.

Apa bila darah yang keluar dikatagorikan sebagai darah haid atau nifas maka tidak diperbolehkan melakukan beberapa hal yaitu :

  1. Sholat, sujud syukur dan sujud tilawah
  2. Thowaf
  3. Membaca Al – Qur’an
  4. Menyentuh dan membawa Al – Qur’an
  5. Lewat atau berdiri di dalam masjid
  6. Dicerai
  7. Bersetubuh atau bersentuhan kulit antara pusar dan lutut

Kang Yanu

__Terbit pada
24 November 2020
__Kategori
Fiqih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *