Rab. Nov 30th, 2022
Perang Thaif

Perang Thaif merupakan salah satu peristiwa bersejarah yang tidak terlupakan pada bulan syawal. Perang Tha’if merupakan perang lanjutan dari perang Hunain yang sempat membuat pasukan muslim kocar-kacir pada tanggal 10 Syawal 8 H.

Pada peristiwa itulah kaum Anshar mendapat pelajaran penting dari Nabi Muhammad SAW.

Perang Thaif itu dimenangkan oleh pasukan muslim. Kemenangan itu dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an sebagai berikut,

لَقَدۡ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٖ وَيَوۡمَ حُنَيۡنٍ إِذۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡ كَثۡرَتُكُمۡ فَلَمۡ تُغۡنِ عَنكُمۡ شَيۡ‍ٔٗا وَضَاقَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ ثُمَّ وَلَّيۡتُم مُّدۡبِرِينَ

Artinya, “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah [9]: 25)

Pasukan musuh yang kalah dalam peperangan terpecah belah menjadi tiga kelompok. Mereka lari ke wilayah yang berbeda. Sebagian lari ke Tha’if, sebagian lari ke Nakhlah, dan sebagian ke Authas.

Nabi Muhammad SAW menugaskan sejumlah tentara, dibawah pimpinan Abu Amir Al-Asy’ari untuk mengejar pasukan yang lari ke Authas.

Setelah berhasil dikejar, pertempuran pun terjadi antara kedua belah pihak yang dimenangkan oleh umat muslim, meski Al-Asy’ari gugur dalam peristiwa tersebut.

Nabi juga menugaskan sejumlah tentara untuk mengejar pasukan yang lari ke Nakhlah untuk dilumpuhkan. Dalam peristiwa ini, Rabi’ah bin Rufa’i berhasil menangkap dan membunuh Duraid bin ash-Shimah (dari pasukan musuh).

Sementara sejumlah tentara muslim yang dipimpin oleh Nabi mengejar pasukan yang lari ke arah Thaif, dan terjadilah pertempuran sengit. Alasan pengejaran pada kelompok ini menjadi prioritas sampai Nabi sendiri yang mengomandoi pasukan adalah karena mayoritas tentara musuh kabur ke wilayah ini.

Baca Juga  Beragam Upaya Orang Quraisy Lemahkan Dakwah Rasulullah

Safyurrahman al-Mubarakfuri melaporkan, mayoritas pelarian Hawazin dan Tsaqif yang terlibat dalam Perang Hunain lari ke Tha’if bersama dengan komandan tertinggi mereka, Malik bin Auf an-Nashri.

Sebanyak 1000 tentara dipimpin Khalid bin Walid diutus berangkat ke Tha’if terlebih dahulu. Kemudian, Nabi bersama pasukan lainnya menyusul. Mereka menemukan benteng bilik Malik bin Auf di sana. Rasulullah kemudian memerintahkan pasukan muslim untuk mengepung dan menghancurkan benteng tersebut.

Pengepungan ini berlangsung cukup lama. Al-Mubarakfuri sendiri dengan mengutip riwayat Muslim dari Anas melaporkan bahwa pengepungan berlangsung selama 40 hari. Meski ada pula sejumlah sejarawan yang mengatakan hanya 20 hari, ada yang mengatakan 18 hari, ada pula yang mengatakan 15 hari, dan ada yang mengatakan 10 hari lebih.

Banyak umat muslim yang cedera dan 12 orang gugur akibat kehujanan anak panah dan batu yang dilancarkan pasukan musuh. Nabi kemudian menginstruksikan untuk memasang manjanik dan melontarkan peluruh-peluruh batu hingga merontokkan sebagian benteng musuh. Melalui celah itu kemudian pasukan muslim mulai maju menyerbu.

Sayangnya, pasukan muslim yang maju untuk menyerang dihabisi oleh musuh dengan hujanan besi yang sudah dipanaskan dengan api. Akibatnya sebagian dari mereka terbunuh.

Dalam kondisi yang cukup mencekam, Nabi mengatur siasat agar tentara muslim menebangi dan membakar pohon anggur yang ada di wilayah itu. Pasukan musuh memohon untuk menghentikan dan menyerah karena saking banyaknya jumlah pohon anggur yang dimusnahkan. Singkat hikayat, pertempuran pun berakhir dengan kemenangan umat muslim.

Setelah perang Thaif selesai, Rasulullah ingin fokus mengejar pasukan musuh yang lari ketiga wilayah berbeda, sehingga beliau menunda pembagian ghanimah (rampasan perang). Begitu semua musuh sudah dilumpuhkan, Rasulullah mulai membagikan ghanimah tersebut.

Baca Juga  SEJARAH KUPAT - LEPET

Tetapi, ada yang membuat orang Anshar heran dari cara Nabi membagi ghanimah. Sebab, beliau lebih memprioritaskan orang-orang muallaf (baru masuk Islam) yang belum memiliki kontribusi banyak untuk Islam. Sedangkan kaum Anshar yang sudah berjuang sekian lama dan dengan pengorbanan lebih besar hanya memperoleh ghanimah sisa.

“Bagaimana mungkin, orang muallaf yang belum memiliki kontribusi besar untuk Islam memperoleh sedemikian banyak ghanimah dibanding kaum Anshar yang selama ini ikut berjuang bersama Nabi demi agama Islam?” Protes kaum Anshar atas sikap Nabi ini.

Kemudian, Nabi mengumpulkan seluruh kaum Anshar dan berkata kepada mereka, “Wahai orang Anshar, apakah kalian keberatan jika orang lain (muallaf) pergi membawa domba dan onta (ghanimah) sedangkan kalian kembali bersama Rasulullah ke tempat kalian? Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentu aku termasuk orang-orang Anshar.”

“Jika orang-orang menempuh suatu celah gunung, sementara orang Anshar menempuh celah gunung yang lain, tentu aku memilih celah yang dipilih oleh orang Anshar. Ya Allah, rahmatilah orang Anshar, anak-anak orang Anshar dan cucu orang-orang Anshar.”

“Kami rela dengan kebijakan pembagian ghanimah yang engkau buat,” jawab kaum Anshar setelah mendengar perkataan Rasulullah tersebut dan menangis terbaru. (Safyurrahman al-Mubarakfuri, t.t: 387-388)

Nabi lebih memprioritaskan pembagian ghanimah kepada para muallaf karena untuk membuat bahagia orang-orang yang baru masuk Islam sehingga mereka merasa nyaman menjadi seorang muslim.

Sumber : di olah dari NU Online

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *