Siapa Kreator Tradisi Kupatan?

Kupat/Ketupat merupakan makanan yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan selongsong dari anyaman daun kelapa yang masih muda (janur).

Ketupat sudah menjadi maskot makanan khas lebaran. Namun dalam tradisi Jawa makanan ini bukan hanya sajian pada hari kemenangan, tetapi makna filosofis yang mendalam dalam tradisi Jawa.

Sebenarnya siapa kreator tradisi kupatan?

Seperti dilansir dari nu.or.id berikut penjelasannya.

Tradisi kupatan merupakan bentuk sublimasi ajaran Islam dalam tradisi masyarakat Nusantara. Hampir tak ada bukti tertulis yang bisa dijadikan rujukan mengenai tradisi kupatan. Semua referensi hanya berdasar cerita tutur (foklor) yang berkembang di masyarakat yang kemudian ditulis.

Hal itu diterangkan oleh Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi, Senin (3/7) menanggapi lebaran ketupat atau tradisi Syawalan yang dirayakan masyarakat Indonesia setelah menjalani puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.

“Dari berbagai cerita foklor yang ditulis, kebanyakan terkait dengan Sunan Kalijaga. Artinya Sunan Kalijaga merupakan kreator dan motor dalam tradisi kupatan tersebut,” terang Zastrouw.

Secara historis, lanjut Dosen Pascasarjana UNU Indonesia (Unusia) Jakarta ini, tradisi kupatan muncul pada era Wali Songo memanfaatkan tradisi slametan yang sudah berkembang di kalangan masyarakat Nusantara.

“Tradisi ini kemudian dijadikan sarana untuk mengenalkan ajaran Islam mengenai cara bersyukur kepada Allah, bersedekah, dan bersilaturrahim di hari lebaran,” ujar Ketua Lesbumi PBNU periode 2010-2015 itu.

Tradisi ketupat biasanya dilakukan pada hari ke-8 atau seminggu setelah lebaran. Menurut Zastrouw, hal ini mengandung makna sebagai lebaran orang-orang yang selesai melaksanakan puasa Syawal selama enam hari yang dimulai hari kedua lebaran.

“Momentum ini yang dikenal lebaran ketupat. Jelas di sini terlihat tradisi ketupat sebagai rangsangan melaksanakan hadits Nabi Muhammad mengenai puasa sunnah di bulan Syawal,” tutur pria yang tak pernah lepas dengan blangkon di kepalanya ini.(*)

__Terbit pada
13 Mei 2021
__Kategori
Sejarah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *