Tangis Guru Honorer di DPR: Tersingkir dari Dapodik dan Gagal Mengikuti Seleksi PPPK

Tangis Guru Honorer di DPR Tersingkir dari Dapodik dan Gagal Mengikuti Seleksi PPPK Tangis Guru Honorer di DPR Tersingkir dari Dapodik dan Gagal Mengikuti Seleksi PPPK

Persoalan pendataan guru honorer kembali menuai sorotan. Dalam rapat Badan Legislasi (Baleg) DPR RI bersama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), para guru honorer menyampaikan keluh kesah mereka di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (2/1/2026).

Dalam forum itu, para guru honorer mengungkapkan keluhan atas terbatasnya akses pendataan yang berakibat langsung pada hilangnya kesempatan mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Guru honorer SDN Wanasari 01, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Indah Permata Sari menyampaikan bahwa hingga saat ini namanya masih tercantum dalam daftar 265 tenaga honorer yang belum terdata dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik), meski telah memenuhi persyaratan masa kerja sesuai ketentuan.

“Padahal saya sudah memenuhi masa kerja, tapi untuk masuk Dapodik itu sulitnya luar biasa Pak,” kata Indah dikutip Youtube TVR Parlemen.

Indah menilai persoalan pendataan tersebut semakin diperparah oleh minimnya informasi dari Dinas Pendidikan yang tidak tersosialisasi secara merata ke sekolah-sekolah. Akibatnya, banyak guru honorer tidak mengetahui prosedur maupun tahapan yang harus dilalui.

“Jadinya kita ketinggalan info,” kata Indah.

Tidak terdaftarnya guru honorer dalam Dapodik berdampak langsung pada tertutupnya kesempatan mengikuti seleksi PPPK. Saat tahapan seleksi berlangsung, Indah dan rekan-rekannya tidak memiliki akses pendaftaran, sehingga peluang untuk menjadi aparatur pemerintah pun hilang.

“Kita semua tidak bisa, Pak, tertinggal. Bahkan terbayang-bayang akan dirumahkan. Itu paling sedih sih, Pak,” ujar Indah dengan suara bergetar sambil menyeka air mata.

Indah menjelaskan bahwa situasi tersebut memberi beban berat bagi guru honorer, tidak hanya dari sisi mental tetapi juga keuangan. Ia mengaku terpaksa mencari sumber pendapatan lain di luar aktivitas mengajar demi mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Ia menggambarkan realitas kehidupan guru honorer yang kerap harus menekuni pekerjaan lain usai menjalankan tugas mengajar di sekolah.

“Karena saya juga seperti yang tadi Bapak bilang, pulang mengajar jadi antar jemput laundry Pak. Mungkin itu aja yang bisa saya sampaikan,” pungkas Indah.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *