Tiga Pandangan Bahaya

Dalam pelatihan-pelatihan GP Ansor, peserta selalu diminta mengawali kegiatan dengan membaca hauqolah.

Hassontukum bil hayyil qoyyumul ladzi la yamutu abada. Wa dafa’tu ankumussu a bi alfi alfi la haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim.

Aku berlindung dari kalian kepada Allah dzat yang maha hidup dan jumeneng serta tidak mati selamanya. Aku menolak keburukan dari kalian dengan berjuta la haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim.

Tak ada daya menghindari celaka dan melakukan kebaikan kecuali atas pertolongan Allah dzat yang maha luhur dan agung.

Hauqolah diatas juga ada dalam istighosah yang disusun Kiai Romly Rejoso, Jombang. Biasanya diamalkan para santri Darul Ulum Rejoso bakda Subuh.

Nah, kala ngaji dalam rutinan Ikalum Bogor Jumat (27/8/2021), cucu Kiai Romly yang juga pengasuh PP HQ Darul Ulum Rejoso yang sekarang masuk jajaran syuriyah PBNU, Dr KH Afifuddin Dimyati Alhafid (Gus Awis) sempat menjelaskan manfaat hauqolah diatas.

“Bisa menolak ain atau dampak buruk yang diakibatkan pandangan,” kata Gus Awis.

Beliau menjelaskan, ada tiga macam ain alias pandangan yang membahayakan.

Pertama, ain mu’jabah. Yakni pandangan kagum. “Jangan mudah senang kalau dipandang kagum, karena itu bisa membahayakan,” terangnya.

Gus Awis lalu mengutip QS Al Kahfi 35 dan beberapa ayat setelah nya.

Surat Al-Kahf Ayat 35
وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا

QS Albaqarah 109

حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ ٱلْحَقُّ

Surat Al-Qalam Ayat 51
وَإِنْ يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ

Serangkaian ayat itu mengisahkan, ada orang masuk kebunnya kemudian melihat dengan kagum. “Kebunku ini pasti selamanya tak akan rusak,” ucap orang itu.

Akibat pandangan kagum itu, besoknya semua kebunnya rusak.

Seharusnya, dia tidak mengucapkan kebunku pasti tak akan rusak selamanya.

Tapi ucapkanlah Masya Allah, la haula wala quwwata illa billahil, kebun ku apik atas..

Sebagaimana kebun yang rusak karena dipandang dengan kagum. Manusia juga bisa rusak dengan pandangan kagum. Makanya harus banyak baca la haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim.

Kedua, ain hasidah, yakni pandangan orang iri dengki. Gus Awis mencontohkan QS Al-Baqarah 109 diatas.

Pandangan orang dengki bisa membuat kita celaka. Makanya harus ditolak dengan banyak membaca la haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim.

Ketiga, ain qotilah, yakni pandangan membunuh. Gus Awis mencontohkan QS Alqalam 51 diatas.

Gus Awis cerita, dulu ada orang yang punya pandangan maut. Siapapun orang yang dia pandang akan mati.

Nah, orang-orang kafir lantas menyewa orang itu untuk membunuh Nabi Muhammad sollallahu alaihi wa sallam.

Ketika orang itu memandang Nabi, Nabi hanya pingsan. Karena Nabi Muhammad sollallahu alaihi wa sallam selalu dilindungi Allah subhanahu wa ta’ala.

Untuk menolak pandangan membunuh seperti itu kita harus banyak membaca la haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim.

Mugi Allah subhanahu wa ta’ala paring kita saget ngelampahi. (*)

Wallahu a’lam

__Terbit pada
18 November 2021
__Kategori
Keislaman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *