Tongkat Mbah Kholil, Sejarah Berdirinya NU

Sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) tidak bisa terlepas dari peran KH Cholil Bangkalan Madura. Peran tersebut terjadi ketika KH Hasyim Asy’ari hendak meminta petunjuk kepada Mbah Cholil terkait gagasan para kiai pesantren untuk mendirikan sebuah organisasi ulama.

Pada 1924, melalui KH Raden As’ad Syamsul Arifin, Mbah Cholil memberikan sebuah tongkat ke KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng. Penyampaian tongkat tersebut disertai seperangkat ayat Al-Qur’an Surat Thaha ayat 17-23 yang menceritakan Mukjizat Nabi Musa AS.

Ayat ini menurut Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Bangkalan, Jawa Timur KH Makki Nasir memiliki makna dan isyarat yang mendalam dan harus dipegang warga NU dalam menjaga dan mengembangkan Nahdlatul Ulama.

Berikut penjelasan lengkap Kiai Makki terkait isyarat ayat dan tongkat Mbah Kholil Bangkalan untuk NU saat menerima kunjungan silaturahmi Wakil Rais Syuriah PCINU Arab Saudi KH Abdul Malik (Guslik An-Namiri) di kediamannya, Ahad lalu.

Qur’an Surat Thaha ayat 17-23 memiliki arti sebagai berikut: “Apakah itu yang di tangan kananmu wahai Musa? “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan (berpegangan) kepadanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya”. Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa! Lalu dilemparkanyalah tongkat itu, tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengemabalikan pada keadaan semula. Dan kepitlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia akan keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat – sebagai mukjizat yang lain (pula) – untuk kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar.”

Menurut pria yang juga masih dzurriyah (keturunan) dari Syaikhona Cholil Bangkalan ini, tongkat merupakan bentuk isyarat komando dalam pergerakan organisasi yang terorganisir dan terpimpin.

Dalam ayat ini lanjut Kiai Makki, terdapat kisah ketika Nabi Musa mengatakan fungsi tongkat tersebut adalah untuk pegangan. Ini mengisyaratkan bahwa Nahdlatul Ulama harus menjadi pedoman dan pegangan bagi warga NU untuk melaksanakan ajaran dan perintah agama dengan baik dan benar.

Masih dalam ayat yang sama, tongkat tersebut juga digunakan oleh Nabi Musa untuk merontokkan (daun-daun) yang dengan daun-daun itu kambing yang ia miliki bisa makan. Ini memberi isyarat bahwa perlunya pengembangan dan penguatan ekonomi oleh NU sehingga warganya juga akan memiliki kekuatan ekonomi.

Bukan hanya ekonomi, sektor-sektor lain juga harus diperkuat sebagaimana kelanjutan ayat tersebut yakni: “Dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain”. Ini mengisyaratkan bahwa kebutuhan hidup lainnya juga harus diperkuat oleh Nahdlatul Ulama seperti sektor pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya.

Selanjutnya ketika Allah memerintahkan kepada Musa dengan kalimat: “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” mengisyaratkan bahwa berbagai program tersebut harus didistribusikan (dilemparkan) kepada warga NU sehingga mampu terserap dengan baik.

Ketika tongkat sudah dilemparkan, maka itu akan menjadi ular besar yang bergerak memakan habis ular-ular kecil. Ular kecil ini adalah simbol-simbol permasalahan yang dihadapi warga NU yang dengan program nyata dan besar dari NU, mereka akan mampu terbebas dari permasalahan yang membelenggu.

Selanjutnya, dalam ayat 21 memiliki arti: ”Dia (Allah) berfirman, “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula”. Ini mengisyaratkan bahwa pergerakan NU harus tetap dalam kontrol penguasaan organisasi (satu komando).

“Jangan dibiarkan begitu saja tanpa manajemen organisatoris dan satu komando. Maka Semuanya akan kembali sesuai tujuan dasar pergerakan organisasi,” jelasnya.

Sebagai sebuah organisasi, lanjut Kiai Makki, berbagai dinamika mesti terjadi. Oleh karenanya, setiap elemen di dalamnya harus sekuat tenaga menjaganya agar keberlangsungan organisasi bisa terjaga terus.

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai,” katanya mengutip QS At-Taubah ayat 32.

“Jangan sampai ujian yang kita hadapi ini dianggap sebagai musibah tapi anggap sebagai rintangan untuk mencapai keberhasilan,” pungkasnya.

Sumber: nu.or.id

__Terbit pada
7 Juni 2021
__Kategori
Sejarah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *