mahram

Wanita-wanita Yang Haram Dinikahi ( Mahrom )

Sebab-sebab haram dinikahi:

  1. Haram dengan sebab keturunan:
    ▶️Ibu dan nenek hingga ke atas.(maksud keatas adalah ibunya nenek dst )
    ▶️Anak dan cucu hingga kebawah.(maksudnya kebawah adalah anaknya cucu dst)
    ▶️Kakak-adik seibu-sebapa atau sebapa atau hanya seibu saja.
    ▶️saudara bapak yakni kakak/adiknya bpk,kandung maupun tiri (Bu lek/bu dhe dari ayah)
    ▶️saudara ibu yakni kakak/adiknya ibu ,kandung maupun tiri (Bu lek/bu dhe dari ibu)
    ▶️Anak saudara lelaki ( adik atau kakak) hingga kebawah.
    ▶️Anak saudara perempuan ( adik atau kakak ) hingga ke bawah.
  2. Haram dengan sebab satu susuan.(Tunggal rodo`) :
    i. Ibu yang menyusui.
    ii. Saudara perempuan sesusuan.

Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud : “Haram dari susuan sebagaimana haram dari keturunan “. (Riwayat Bukhari dan Muslim). Perempuan-perempuan yang haram dengan sebab susuan adalah sama dengan orang-orang yang haram dengan sebab keturunan.

  1. Haram dengan sebab perkawinan/menjadi mertua. ( Musyaharah ) :
    1. Ibunya istri keatas baik ibu kandung maupun ibu rodo`nya istri.baik suami sudah berhubungan intim dengan istri atau belum.
    2. Anak dari istri (anak tiri suami) jika memang sang istri sudah berhub intim dengan istri.
    3. istri-istrinya bapak (atau ibu, baik ibu kandung maupun ibu tiri)
    4.Istri anak-anaknya.(menantu)

YANG DISEBUTKAN DI ATAS HARAM DINIKAHI SELAMANYA (BAIK SUDAH CERAI DENGN ISTRI ATAU BELUM)

Sedang yang tidak haram selamanya (haram hanya ketika menikahi kedua-duanya atau ke-empat-empatnya / mengumpulkan dalam satu pernikahan) jika istri sudah dicerai maka boleh dinikahi.mereka adalah:

  1. Saudara istri yakni kakak-atau adiknya istri baik kandung atau tiri atau hanya saudara sepersusuan.
  2. saudara bapaknya istri yakni kakak/adiknya bpk,kandung maupun tiri (Bu lek/bu dhenya istri dari arah ayah)
  3. saudara ibunya istri yakni kakak/adiknya ibu, kandung maupun tiri (Bu lek/bu dhenya istri dari ibu)

Kang Yanu di Ngaji Pesantren

__Terbit pada
24 November 2020
__Kategori
Fiqih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *