MELAWAN IRI DENGAN MENDOAKAN KEBAIKAN

Saat ngaji kitab Mawazinul Qosirin karya Syekh Abdul Wahab Assya’roni di kediamannya, Jumat (31/10/2025), Pengasuh Asrama Hidayatul Qur’an PP Darul Ulum Rejoso, Dr KH Afifuddin Dimyati Alhafiz (Gus Awis), mmberikan tips melawan iri dengki alias tidak suka orang lain mendapatkan nikmat.

Yakni dengan mendoakan kebaikan kepada orang yang kita iri.

“Cara latihan menjadi kiai adalah dengan mendoakan kiai lain,” tuturnya.

Misalnya kita melihat kiai didatangi pejabat. Biasanya kalau pejabat datang itu kan memberi uang.

Melihat itu kita biasanya iri atau tidak senang. Maka untuk melawan rasa iri itu, langsung doakanlah kiai tersebut.

“Ya Allah tutuplah aib kiai itu,” ucap Gus Awis memberi contoh.

Ya Allah ampunilah kiai itu. Ya Allah rahmatilah kiai itu. Ya Allah berkahilah kiai itu. Ya Allah berilah rezeki yang banyak kepada kiai itu.

Kita tidak boleh iri kepada kiai yang didatangi pejabat. “Iri kepada manusia itu hanya boleh dalam dua hal,” terangnya.

  1. Kepada orang yang diberi Allah Ta’ala ilmu kemudian diamalkan.
  2. Kepada orang yang diberi Allah Ta’ala harta kemudian disedekahkan.

Gus Awis menganjurkan agar tidak melihat negatif kepada kiai yang didatangi pejabat. Karena bagaimanapun hal itu pasti ada kebaikannya.

“Jika kita sebagai kiai, jangan ingin didatangi pejabat. Kepada kiai yang didatangi pejabat, kita harus melihat bahwa hal itu pasti ada nilai kebaikannya,” saran Gus Awis.

Kita yang bukan kiai, harus benar-benar menjaga agar tidak berprasangka buruk kepada kiai.

KH Qoyum Mansur Lasem pas ngaji haul KH Bisri Syansuri Denanyar pernah dawuh.

  1. Banyak orang biasa punya anak jadi kiai karena memuliakan kiai.
  2. Banyak kiai anaknya bodoh karena menghina orang bodoh.

Intinya, orang bodoh dan orang alim itu sama-sama malati..

Makanya kepada orang bodoh kita doakan kebaikan. Mudah-mudahan Allah menjadikan anak keturunannya saleh salehah, ahli ilmu, ahli ibadah dan hafal Qur’an.

Orang alim juga kita doakan kebaikan.
Mudah-mudahan Allah menjadikan anak keturunannya lebih alim, lebih saleh salehah, ahli ilmu, ahli ibadah dan hafal Qur’an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *