Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth mengungkapkan bahwa perang melawan Iran telah menghabiskan biaya sebesar US$ 37,5 miliar atau setara Rp 671,7 triliun hingga saat ini.
Angka tersebut, seperti dilansir Reuters, Rabu (22/7/2026), disampaikan Hegseth dalam rapat dengar pendapat di parlemen AS pada Selasa (21/7) waktu setempat. Pernyataan itu disampaikan ketika Pentagon berupaya memperoleh tambahan anggaran darurat untuk perang yang menuai banyak kritik tersebut.
Rapat tersebut menjadi kali pertama Hegseth, sejak pertempuran kembali berkobar, menghadapi anggota parlemen AS yang skeptis terhadap kelanjutan perang melawan Iran.
Dengan pemilu sela yang akan digelar enam bulan lagi, Partai Republik pendukung Presiden AS Donald Trump diperkirakan menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan dominasi di DPR dan Senat. Sementara itu, Partai Demokrat berada dalam posisi yang lebih kuat berdasarkan jajak pendapat publik, sembari berupaya mengaitkan isu perang Iran dengan persoalan keterjangkauan biaya hidup.
Berbicara di hadapan para anggota parlemen AS, Hegseth menjelaskan bahwa angka US$ 37,5 miliar tersebut mencakup sejumlah aspek perang serta proyeksi biaya hingga 30 September mendatang.
Belum diketahui secara pasti bagaimana Pentagon menghitung angka tersebut. Sebelumnya, pada Maret lalu, seorang sumber yang dikutip Reuters menyebut pemerintahan Trump memperkirakan biaya enam hari pertama perang melawan Iran mencapai sedikitnya US$ 11,3 miliar atau setara Rp 202,3 triliun.
Bulan lalu, Trump mengajukan permintaan anggaran tambahan kepada Kongres AS sebesar hampir US$ 90 miliar atau sekitar Rp 1.611 triliun, yang sebagian besar dialokasikan untuk konflik Iran.
Permintaan anggaran tambahan tersebut berpotensi memicu perdebatan baru dengan para anggota parlemen AS yang merasa frustrasi karena perang Iran tak kunjung berakhir. Selain itu, mereka juga akan menghadapi pemilu sela yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
![]()
