Matahari baru saja tergelincir di Pasuruan ketika Kiai Ahmad Siddiq duduk berhadapan dengan Kiai Hamid. Wajah Kiai Ahmad Siddiq menyiratkan kegelisahan yang mendalam. Sebagai seorang ulama yang memegang teguh fikih dan tatanan syariat, beliau merasa resah melihat sepak terjang dari Gus Miek.
Bagaimana tidak? Di saat para kiai sibuk mengajar kitab kuning di pesantren, Gus Miek justru terlihat akrab dengan dunia malam. Beliau masuk ke bar, bersanding dengan para pemabuk, dan akrab dengan wanita-wanita malam.
“Kiai,” puji Kiai Ahmad Siddiq membuka obrolan, mencoba mencari penegasan. “Njenengan ini luar biasa. Di mana-mana dihormati, santrinya ribuan, hidupnya tertata di jalur syariat.”
Mbah Hamid tersenyum arif, menggelengkan kepala perlahan. “Ah, Sampeyan keliru, Kiai Ahmad. Jenengan tahu? Di atas saya, masih ada Gus Miek.”
Kiai Ahmad Siddiq terenyak. Beliau mengernyitkan dahi, seolah salah mendengar. “Masak iya, Kiai? Bagaimana bisa? Gus Miek itu… jalurnya berbeda. Beliau sering di tempat-tempat maksiat.”
“Benar, Kiai Ahmad,” ucap Mbah Hamid dengan nada suara yang bergetar penuh takzim. “Tugas saya ini ringan. Saya hanya ditugasi menemui orang-orang saleh, sowan ke para kiai, dan mengajar santri yang memang sudah mau ngaji. Tapi kalau Gus Miek… tugas beliau itu berat. Beliau diutus langsung ke sarang bromocorah, para penjudi, pemabuk, dan perempuan-perempuan yang tersesat.”
Mbah Hamid menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh.
“Dan untuk tugas seberat itu… saya pribadi jujur tidak akan sanggup.”
Mendengar kalimat terakhir dari lisan Mbah Hamid—seorang kiai yang kewaliannya sudah diakui se-tanah Jawa—runtuhlah seluruh keraguan di hati Kiai Ahmad Siddiq. Beliau tersadar bahwa apa yang dilakukan Gus Miek bukanlah kemaksiatan, melainkan metode tathhirul qulub (pembersihan hati) langsung di pusat kegelapan. Gus Miek melompat ke dalam lumpur bukan untuk ikut kotor, melainkan untuk mengangkat mereka yang tenggelam di dalamnya.
Catatan Hikmah: Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa pandangan manusia seringkali hanya sampai pada kulit (syariat lahiriah), sementara para Wali Allah memandang langsung ke dalam lubuk hati (hakikat). Gus Miek mengajari kita bahwa sedalam apa pun seseorang jatuh ke dalam lembah hitam, mereka tetaplah hamba Allah yang merindukan sentuhan hidayah.
Tim Redaksi Kyaiku.com diolah dari berbagai sumber
