Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 tahun 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus mendatang, saya kira baik bagi kita, seluruh warga Nahdliyin, merenungkan kembali pesan yang pernah disampaikan Mbah Hasyim dalam sambutannya pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-15 di Surabaya, 1940. Pesan itu kemudian dibukukan dalam kitab Min al-Mu’tamar ila al-Mu’tamar.
Dalam pesan itu, Mbah Hasyim menekankan dua hal mendasar agar NU tetap eksis dan mampu menjalankan visi besarnya di tengah umat: al-wifāq wa al-wi’ām (persatuan, kesepahaman, dan harmoni) serta taqwiyatu al-syu’ūr al-mas’ūliyyah (penguatan rasa tanggung jawab). Keduanya fondasi peradaban. Sebuah organisasi bisa saja memiliki sumber daya besar, kader melimpah, dan jaringan luas; tanpa persatuan dan tanggung jawab, semua potensi itu kehilangan arah.
Yang menarik, Mbah Hasyim tidak meletakkan kemajuan organisasi sebagai soal kecerdasan semata, melainkan kualitas batin para anggotanya. Ketika setiap orang merasa bertanggung jawab, organisasi tumbuh. Ketika semua sibuk menuntut hak tanpa menguatkan kewajiban, kemunduran tinggal menunggu waktu.
Al-wifāq mengandung makna kesepakatan yang lahir dari kesadaran bersama: kesediaan menempatkan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan pribadi, jauh melampaui sekadar kompromi politik. Dalam organisasi sebesar NU, perbedaan adalah keniscayaan; yang jadi persoalan justru hilangnya kemampuan mengelola perbedaan menjadi kekuatan. Al-wi’ām, di sisi lain, adalah suasana harmoni yang lahir dari adab dalam berbeda, bukan dari ketiadaan kritik. Kritik boleh tajam, asal disampaikan dengan hormat; keputusan organisasi diterima dengan kelapangan hati. Kalau keduanya berpadu, persaingan berubah jadi kolaborasi, dan jabatan menjelma amanah pelayanan, bukan alat kekuasaan.
Pesan kedua, taqwiyatu al-syu’ūr al-mas’ūliyyah, berangkat dari keyakinan bahwa organisasi tidak akan maju hanya dengan mengandalkan para pemimpinnya. NU akan kuat apabila setiap anggotanya merasa memiliki dan bertanggung jawab, rasa yang melahirkan inisiatif dan kesediaan bekerja tanpa selalu menunggu instruksi. Dalam konteks sekarang, tanggung jawab itu perlu dimaknai lebih luas: menghadirkan nilai-nilai NU dalam keseharian, dari ruang kelas sampai meja kerja, dari mimbar pengajian sampai linimasa media sosial.
Bagi saya pribadi, muktamar mendatang bukan sekadar ajang memilih ketua umum atau menyusun kepengurusan baru. Ia adalah momentum memperbarui komitmen bersama, ruang untuk merawat semangat kebersamaan agar NU mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Tantangan NU hari ini tentu berbeda dari zaman Hadratus Syaikh. Dunia kini memasuki era kecerdasan buatan, transformasi digital, krisis lingkungan, dan disrupsi ekonomi. Informasi bergerak begitu cepat sehingga konflik bisa menyebar hanya lewat satu unggahan. Seperti yang saya alami sendiri malam itu, jauh sebelum ada kesempatan mengklarifikasi duduk perkaranya. Dalam situasi seperti ini, persatuan internal menjadi aset yang jauh lebih berharga, dan pesan al-wifāq wa al-wi’ām menemukan relevansi barunya. Tidak semua perbedaan perlu dipertontonkan, dan musyawarah tetap jalan terbaik yang diwariskan para ulama.
Rasa tanggung jawab pun mesti hadir dalam penggunaan teknologi. Setiap warga NU memikul tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik jam’iyah, menyebarkan informasi yang benar, dan menahan diri dari fitnah. Dunia digital membutuhkan etika, dan etika itu sejak lama diajarkan dalam tradisi pesantren: bahwa lisan, dan kini jempol, seorang santri mencerminkan akhlak gurunya.
Saya sendiri meyakini, kemajuan NU pada akhirnya tidak semata diukur dari jumlah lembaga pendidikan, rumah sakit, atau badan usaha yang dimiliki. Semua itu penting, tentu saja. Tetapi ukuran yang lebih mendasar adalah kualitas ukhuwah di antara warganya. Sebab, bangunan sebesar apa pun akan rapuh bila fondasinya retak. Sejarah NU lebih dari satu abad, dengan segala pasang surutnya, menunjukkan bahwa yang menahan organisasi ini tetap utuh bukan semata sistem atau aturan, melainkan kepercayaan antarkiai, budaya musyawarah, dan penghormatan terhadap sanad keilmuan. Modal itulah yang harus terus dirawat, terutama menjelang muktamar yang biasanya menghadirkan dinamika organisasi cukup tinggi.
Perbedaan aspirasi menjelang muktamar adalah hal wajar, bahkan tanda bahwa organisasi hidup. Dari pengalaman saya di tingkat cabang, dinamika semacam ini nyaris selalu muncul setiap kali mendekati hajatan besar. Yang penting, dinamika itu tetap berpijak pada persaudaraan: kompetisi jangan berubah jadi permusuhan, dan perbedaan pilihan jangan sampai memutus silaturahmi. Siapa pun yang kelak dipercaya memimpin sesungguhnya hanyalah pelaksana amanah jam’iyah, bukan pemilik organisasi. Karena itu, seluruh warga Nahdliyin perlu menata niat kembali: muktamar bukan arena mencari kemenangan pribadi, melainkan ruang mencari kemaslahatan bersama.
Pesan Mbah Hasyim juga mengingatkan bahwa kemajuan lahir dari akumulasi jutaan tindakan kecil yang dilakukan penuh tanggung jawab oleh seluruh anggota, bukan kerja satu tokoh saja. Guru yang mengajar dengan ikhlas, pengurus ranting yang melayani masyarakat, mahasiswa yang menjaga nama baik NU di kampus, warga biasa yang merawat persaudaraan. Barangkali di situlah warisan terbesar beliau. Bukan sekadar organisasi, melainkan budaya. Kepemimpinan boleh berganti berkali-kali, tetapi budaya persatuan dan tanggung jawab harus terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tanpa budaya itu, organisasi hanya akan menjadi struktur yang kehilangan ruh.
Menjelang Muktamar NU ke-35 tahun 2026, sudah saatnya kita menjadikan al-wifāq wa al-wi’ām sebagai etika bersama, dan taqwiyatu al-syu’ūr al-mas’ūliyyah sebagai karakter kolektif. Ini bukan warisan yang cukup dikenang setahun sekali menjelang muktamar, tapi pekerjaan rumah yang harus terus kita kerjakan, hari demi hari. Kebesaran organisasi, saya percaya, tidak diukur dari banyaknya anggota, tetapi dari kuatnya persaudaraan dan kokohnya rasa tanggung jawab di antara mereka. Itulah pesan Mbah Hasyim yang layak terus dijaga. Warisan yang pantas dibawa NU melangkah menuju abad keduanya.Wallahu a’lam.
Penulis adalah Sekretaris Tanfidziyah PCNU Kota Malang masa khidmat 2022–2027.
