Pentingnya Memilih Guru yang Tepat: “Agamamu dan Akhlakmu adalah Siapa Gurumu”

Di era digital saat ini, informasi keagamaan dapat diakses dengan sangat mudah hanya dalam satu klik. Namun, kemudahan ini juga membawa tantangan besar, terutama dalam menyaring siapa yang layak dijadikan panutan. Menanggapi fenomena tersebut, sebuah pesan sejuk kembali mengingatkan umat Islam akan pentingnya selektif dalam memilih guru spiritual maupun intelektual.

Sebuah unggahan yang menampilkan kebersamaan hangat antara dua tokoh agama terkemuka, KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dan Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, mendadak viral dan memicu perbincangan positif di media sosial. Dalam foto yang beredar tersebut, tampak kutipan mendalam yang berbunyi:

“Cari guru yang baik, agamamu adalah siapa gurumu. Akhlakmu adalah siapa gurumu.”

Menelusuri Jejak Sanad dan Akhlak

Pesan ini dinilai sangat relevan dengan prinsip sanad (silsilah keilmuan) dalam tradisi Islam Nusantara. Seorang guru bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan (kognitif), melainkan juga menularkan adab, keteduhan, dan cara pandang dalam beragama.

Jika seseorang belajar kepada guru yang gemar menebar kedamaian dan kasih sayang, maka pemahaman agamanya akan cenderung sejuk. Sebaliknya, jika salah memilih guru yang kerap memprovokasi, maka corak keberagamaannya pun berpotensi menjadi kaku dan keras.

Mengapa Harus Selektif?

Ada beberapa alasan mengapa memilih guru spiritual tidak boleh sembarangan:

  • Refleksi Karakter: Seperti yang tertuang dalam kutipan tersebut, akhlak seorang murid sering kali merupakan cerminan dari akhlak gurunya.
  • Keabsahan Ilmu: Guru yang jelas rekam jejak pendidikannya memastikan bahwa ilmu yang disampaikan tidak menyimpang dari koridor syariat.
  • Keseimbangan Dunia dan Akhirat: Guru yang baik tidak hanya mengajarkan ritual ibadah, tetapi juga bagaimana berinteraksi secara sosial (muamalah) dengan penuh penghormatan terhadap sesama manusia.

Momen kebersamaan Gus Baha dan TGB dalam gambar tersebut menjadi contoh nyata bagaimana dua ulama dengan latar belakang keilmuan yang kokoh dapat menampilkan wajah Islam yang ramah, santun, dan penuh senyuman.

Melalui pengingat ini, masyarakat diharapkan tidak lagi asal mengambil guru atau penceramah hanya berdasarkan popularitas atau jumlah pengikut di media sosial, melainkan dari kedalaman ilmu dan keluhuran akhlaknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *