Jagat media sosial kembali disegarkan oleh pesan-pesan sejuk peninggalan para ulama Nusantara. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah wejangan atau dawuh legendaris dari pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Abdul Karim (Mbah Manab). Pesan tersebut mengingatkan kembali esensi penting dari menuntut ilmu yang tidak memandang latar belakang strata sosial maupun nasab seseorang.
Dalam sebuah kutipan yang kini banyak dibagikan kembali oleh netizen, KH. Abdul Karim menegaskan:
“Yang penting ngaji, meskipun anaknya tukang cari rumput, kalau mau ngaji ya pandai. Anaknya orang alim, kalau tidak mau ngaji ya tidak pandai.”
Menepis Ilusi Hak Istimewa (Privilege) dalam Ilmu
Nasihat dari ulama kharismatik asal Kediri ini membawa pesan kesetaraan yang sangat kuat di dalam Islam. Mbah Manab secara gamblang mematahkan stigma bahwa kepandaian atau kemuliaan hanya milik mereka yang lahir dari keluarga terpandang atau berilmu (orang alim).
Sebaliknya, beliau memberikan harapan besar bagi kalangan kelas bawah—yang disimbolkan dengan “anak tukang cari rumput”—bahwa gerbang ilmu pengetahuan dan derajat yang tinggi terbuka lebar bagi siapa saja yang mau berikhtiar dan mengaji.
”Ini adalah tamparan sekaligus motivasi. Di satu sisi, menasihati anak-anak tokoh agama agar tidak terlena dengan nama besar orang tuanya. Di sisi lain, memompa semangat anak-anak dari kalangan biasa agar tidak berkecil hati,” ujar salah satu alumni
