Awal Muharram : ini Keutamaan Menulis Basmalah 113 kali 

Memasuki awal tahun baru Islam, bulan Muharram, umat Muslim di berbagai penjuru dunia kerap menyambutnya dengan beragam amalan ibadah, doa, dan refleksi spiritual. Di antara sekian banyak tradisi literasi keagamaan yang diwariskan oleh para ulama terdahulu, terdapat satu amalan yang diyakini membawa keberkahan serta perlindungan, yakni menulis kalimat Basmalah sebanyak 113 kali pada hari pertama bulan Muharram.

​Amalan spiritual ini bersumber dari khazanah kitab kuning klasik yang menjadi rujukan penting di kalangan pesantren dan penuntut ilmu, salah satunya tercantum dalam kitab Is’adur Rafiq wa Bughyatul Tashdiq juz 1 halaman 6, sebuah karya monumental yang disusun oleh Syekh Muhammad bin Salim Said Babashil. Kitab tersebut menukil sebuah riwayat dan petunjuk dari ulama terkemuka generasi sebelumnya mengenai fadhilah luar biasa di balik penulisan kalimat mulia ini.

​Dalam naskah aslinya, teks tersebut berbunyi:

​وذكر سيدي ابن عراق في كتابه ” الصراط المستقيم ” في خواص بسم الله الرحمن الرحيم ان من كتبها في رقعة أول يوم من المحرم مائة وثلاث عشرة مرة وحملت لم ينل حاملها و أهل بيته مدة عمره مكروه

​Artinya:

“Sayyidi Ibnu ‘Iraqi menyebutkan dalam kitabnya — Sirathal Mustaqim — tentang khasiat Bismillahir Rahmanir Rahim, bahwa barang siapa yang menulis Bismillaahirrahmaanir Rahiim pada selembar kertas pada awal bulan Muharram, sebanyak 113 kali, dan dibawanya, maka orang yang membawanya dan keluarganya tidak akan mendapatkan sesuatu yang tidak ia sukai seumur hidupnya.”

 

​Makna Filosofis Angka 113

​Secara tekstual, penulisan 113 kali bukanlah angka yang kebetulan. Sebagian ulama ahli hikmah menjelaskan bahwa jumlah tersebut menyimbolkan totalitas jumlah surat dalam Al-Qur’an yang diawali secara langsung oleh bacaan Basmalah. Seperti yang diketahui, Al-Qur’an terdiri dari 114 surat, di mana seluruh suratnya dibuka dengan kalimat Bismillahirrahmanirrahim kecuali Surat At-Taubah. Oleh karena itu, jumlah 113 ini mencerminkan tabarruk (mencari berkah) yang mendalam terhadap seluruh pembuka lembaran suci Al-Qur’an.

​Tata Cara dan Relevansi Amalan

​Para ulama menerangkan tata cara pengamalan tradisi ini secara tertib. Penulisan hendaknya dilakukan pada hari pertama bulan Muharram dengan kondisi suci dari hadas (mempunyai wudhu), menghadap kiblat, serta menggunakan pakaian yang bersih. Setiap goresan pena yang membentuk kalimat “Bismillahirrahmanirrahim” diniatkan sebagai bentuk dzikir, pengagungan kepada Allah SWT, sekaligus permohonan perlindungan total bagi diri sendiri dan keluarga dari segala mara bahaya, petaka, maupun kesusahan duniawi.

​Kertas yang telah bertuliskan rajutan doa tersebut kemudian disimpan dengan baik atau dibawa di tempat yang aman dan terhormat. Amalan ini menjadi bukti autentik bagaimana para ulama terdahulu senantiasa mengintegrasikan nilai-nilai spiritualitas Al-Qur’an ke dalam lini kehidupan sehari-hari demi menjaga keharmonisan, keselamatan, dan ketenteraman batin.

​Kendati amalan ini memiliki fadhilah yang sangat besar sebagaimana disebutkan dalam kitab Is’adur Rafiq, para guru spiritual tetap mengingatkan umat agar senantiasa melandasi amalan ini dengan tauhid yang murni. Media tulisan tersebut hanyalah sebuah wasilah (perantara) doa dan tabarruk, sementara perlindungan sejati, takdir keselamatan seumur hidup, serta kelancaran rezeki mutlak bersumber dan terjadi atas kehendak Allah SWT.

Tim Redaksi Kyaiku.com diolah dari berbagai sumber khazanah islam dan sumber online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *