Di tengah hiruk-pikuk modernisasi dan kejar-kejaran prestasi akademik formal, ada satu sosok bersahaja yang perannya begitu krusial namun sering kali luput dari sorotan publik. Mereka adalah para guru ngaji tradisional—sosok pertama yang dengan penuh kesabaran mengenalkan huruf-huruf hijaiyah kepada anak-anak di pelosok negeri.
Sebuah pengingat visual yang belakangan viral di media sosial kembali menggelitik kesadaran kolektif masyarakat. Melalui pesan menyentuh, “Jangan pernah kau lupakan guru yang pertama mengenalkanmu huruf hijaiyah,” publik diajak untuk kembali menengok ke belakang, mengingat masa-masa kecil di mana jemari mungil mereka dituntun mengeja Alif, Ba, Ta.
Fondasi Karakter dan Spiritual Anak
Menghafal Al-Qur’an atau menjadi ahli agama tidak terjadi dalam semalam. Setiap lantunan ayat suci yang dikumandangkan oleh seorang dewasa hari ini, pahalanya mengalir deras kepada guru pertama yang mengajarkan cara melafalkannya dengan benar.
Guru ngaji, yang sering kali mengajar di surau, musala, atau teras rumah dengan fasilitas seadanya, adalah peletak batu pertama dari bangunan spiritual seorang Muslim. Mereka tidak hanya mengajarkan fonetik bahasa Arab, tetapi juga menanamkan adab, kedisiplinan, dan rasa cinta pada kitab suci sejak dini.
”Kita mungkin lupa siapa nama guru matematika kita di kelas satu SD, atau siapa dosen yang memberi nilai A di universitas. Namun, suara serak guru ngaji yang mengoreksi tajwid kita di waktu magrib biasanya akan membekas seumur hidup,” ujar Ahmad Fauzi, seorang pengamat pendidikan karakter.
Keikhlasan di Balik Layar
Salah satu hal yang paling menyentuh dari fenomena guru ngaji tradisional adalah keikhlasan mereka. Sebagian besar dari mereka mengabdi tanpa tarif, bahkan tidak jarang tanpa imbalan materi sama sekali. Mereka bergerak atas dasar tanggung jawab moral untuk memberantas buta aksara Al-Qur’an di lingkungan mereka.
Di era digital saat ini, di mana aplikasi mengaji dan kelas online menjamur, kehadiran fisik seorang guru ngaji yang mengusap kepala santrinya saat berhasil menyelesaikan jilid Iqra atau Turutan tetap tidak memiliki pengganti. Sentuhan manusiawi dan transfer berkah (as-sanad) itu hanya bisa didapatkan melalui ketulusan tatap muka.
Panggilan untuk Menaruh Hormat
Melalui momentum ini, masyarakat diingatkan kembali bahwa menghormati guru bukan hanya berlaku bagi mereka yang bergelar akademis mentereng. Menjaga silaturahmi, mendoakan, atau sekadar mengunjungi rumah guru ngaji masa kecil kita adalah bentuk nyata dari adab seorang murid yang tahu balas budi.
Sebab, pangkat bisa dikejar dan harta bisa dicari, namun petunjuk jalan menuju kebaikan yang pertama kali ditiupkan oleh seorang guru ngaji adalah investasi akhirat yang tak ternilai harganya. Sudahkah Anda menyapa atau mendoakan guru ngaji Anda hari ini?
